Resensi Buku Kembang Kelapa

Table of Contents
Kembang Kelapa ~ Setangkle Catatan Budaya Betawi ~ Dari Batavia Sampai Jakarta

Jakarta - Monitor Pos


KABAR BUKU


Judul Buku: Kembang Kelapa ~ Setangkle Catatan Budaya Betawi ~ Dari Batavia Sampai Jakarta
Penulis: Chairil Gibran Ramadhan
Penyunting Bahasa: Laora Arkeman
Perancang Sampul dan Isi: Sarifudin Anwar
Cetakan I: November 2016. Cetakan X: Juni 2023.
Jumlah halaman: xxvi+174. Ukuran buku: 14x21 cm. Jenis kertas: Bookpaper. Jenis Sampul: Softcover. ISBN 978-602-17963-2-0
Penerbit Padasan.

Litografi pada sampul:

Topeng Babakan, karya Ernest Alfred Hardouin.
Sumber: Java’s bewoners in hun eigenaardig karakter en kleederdracht, Leiden, 1872.
Semua litografi pada isi dan sampul atas budi baik Mona Lohanda Ph. D.

Endorsement:

Bicara Betawi, juga bicara nasib mengenaskan sebuah etnis di pusat kekuasaan. Sejak Orde Lama dan Orde Baru, orang Betawi tergusur atas nama pembangunan (salahsatunya tiga kampung yang digusur menjadi Istora Senayan). Cerita dan berita ketidakadilan terus terjadi setiap rezim. Inilah salah satu tema yang disorot CGR dalam raungan-raungan esainya. Sebagai anak Betawi kampung Pondok Pinang, ia mengalami kegetiran karena orang lebih melihat Pondok Indah. Padahal (perumahan) Pondok Indah adenye di Pondok Pinang.
~Ahmad Iskandar Bait, Wartawan Senior dan Dosen Ibnu Khaldun

Chairil Gibran Ramadhan adalah generasi baru yang menjurubicarai Betawi secara intelek. Esai adalah kreatifitas intelek. Lewat 17 esai, anak kampung Pondok Pinang ini berkata tentang Betawi dan generasi yang diwakilinya. Betawi sebuah kontinuitas. Tiap jaman ada juru bicaranya. Wak Item, Xabandar Kalapa, adalah intelektual. Ia kuasai bahasa Portugis dan aksara Jawi. Cing Sa’dullah dan Ahmad Beramka dari akhir abad 19 adalah sastrawan. Muhammad Bakir sastrawan dan perupa. Firman Muntaco dan Mahbub Djunaidi tonggak peradaban Betawi 1960-1990. CGR melanjutkan itu.
~Ridwan Saidi, Peneliti Sejarah Betawi-Jakarta.

Melalui buku ini, Chairil Gibran Ramadhan selaku penulisnya, dan kita yang membacanya, turut menggaungkan semangat “mem-Betawi-kan masyarakat Jakarta dan men-Jakarta-kan masyarakat Betawi.”
~Prof. Dr. Sylviana Murni, Guru Besar Pasca Sarjana UNJ.

Dengan memilih judul Kembang Kelapa, jelas sekali CGR hendak “mewarnakan” kepenulisan esai-esainya yang berwarna-warni melalui penggarisbawahan identitas etniknya; hal yang amat luar biasa, dan sangat patut diacungi jempol, mengingat dewasa ini tidak jarang orang justru menganggap “mata rantai” etniknya sebagai sesuatu yang fatamorgana atau sebagai sesuatu yang hanya disebut-sebut dalam semangat romantisme.
~Prof. Dr. Wahyu Wibowo, Guru Besar FBS Universitas Nasional.

Betawi harusnya hadir di kota Jakarta, namun pemerintah daerah tidak memberikan perhatian terhadap representasi Betawi di kampung halaman anak Betawi. Beberapa aspek kebudayaan Betawi seperti kesenian, kuliner, busana, muncul sekejap pada ulang tahun Jakarta kemudian menguap. Karya-karya di media elektronik dan media cetak pun bukan saja merepresentasikan Betawi secara salah, tetapi juga telah memposisikan penduduk asli Jakarta sebagai etnik yang inferior—disamping anak Betawi yang terlalu nrimo atas representasi Betawi di kampung halamannya. Buku karya CGR ini, esais dan sastrawan Betawi dari kampung Pondok Pinang di Jakarta Selatan, telah berhasil mengkritisi secara tuntas mengenai representasi etnik Betawi di Jakarta lewat tulisannya yang hidup.
~Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab, Guru Besar Antropologi FISIP UI.