Film Vina: 7 Hari Terakhir, Menyuarakan Kritik pada Kekebalan 'Yang Berkuasa
Table of Contents
![]() |
| Nayla Denny Purnama, Pemeran Sosok Vina. (Sumber Foto: Facebook @Vivi Padli) |
Jakarta, MonitorPos.net - Gugusan sorot mata penonton memandangi layar, menggenggam kisah tragis yang tak lagi sekadar kisah sedih. Film "Vina: Sebelum 7 Hari" berdiri tegak, menantang stereotip netizen yang mengkhawatirkan eksploitasi kesedihan. Sebaliknya, ia adalah tonggak perlawanan, menyuarakan panggilan untuk penegakan hukum yang tak lagi dapat ditunda.
Disutradarai oleh Anggy Umbara, film ini bukan sekadar petualangan di antara deretan adegan. Ia adalah panggilan untuk bergerak, menyelami lalu lintas yang rumit dari keadilan yang terhimpit oleh kekuatan gelap. Dengan risiko besar, "Vina" mengangkat sorotnya pada kehidupan nyata yang seringkali terlupakan.
Anggy Umbara, dengan langkah tegasnya, menghadapi tantangan moral. Dalam jumpa pers yang menggugah di Epicentrum Rasuna Said, Jakarta Selatan, beliau meneriakkan pentingnya menyebarkan cerita ini. Ini bukan lagi soal kekanak-kanakan, ini adalah panggilan untuk kesadaran. Sebuah seruan untuk menunjukkan bahwa hukum di Indonesia masih memerlukan perbaikan.
Dheeraj Kalwani, sang produser, menambahkan dimensi lain pada kisah ini. "Vina" bukan sekadar film, ia adalah sebuah peringatan akan bahaya bullying dan dunia gelap geng motor. Ditarik dari realitas yang menyakitkan, ia mengajak kita untuk membuka mata.
Lydia Kandou, dengan suara hangatnya, merangkai kesyukuran atas peran dalam film ini. Baginya, ini adalah panggilan untuk waspada, sebuah perlawanan terhadap kegelapan yang mengancam.
Di setiap frame, "Vina" tidak hanya mengundang kita untuk menangis, tetapi untuk bertindak. Dari flyover Cirebon hingga lorong-lorong pengadilan, ia menuntun kita untuk melampaui batas-batas dugaan, menuju kebenaran yang mengiris hati.
Kontributor
Muhammad Annas
