Stamboel : Jurnal Betawi
Table of Contents
Oleh M. Arief Firdaus
Pada Oktober 2012, bertepatan dengan Bulan Bahasa, Penerbit Padasan bekerjasama dengan Betawi Center Foundation, dalam sebuah mimpi besar, menerbitkan edisi perdana “Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies”. Dalam mast-head redaksi dituliskan: Stamboel menyajikan Betawi, Batavia, Jakarta dalam karya non-fiksi dan karya kreatif, didukung Museum Etnografi Orang Betawi dan Forum Betawi Membaca, serta bekerjasama dengan Betawi Center Foundation, lembaga nirlaba yang berkhidmat pada pencerahan, pencerdasan, dan pengembangan nilai-nilai kebetawian melalui eksplorasi intelektualitas.
Chairil Gibran Ramadhan/CGR selaku penggagas, konseptor isi, dan Pemimpin Redaksi terinspirasi pada keberadaan “Jali-Jali: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies” yang digerakkan oleh Prof. Dr. James Danandjaja, Dr. Muhadjir, Dr. Ninuk Kleden Probonegoro, Hadi Purnomo, Mona Lohanda, Yulianti L. Parani, Bambang Ginting AS, Ina M. Suryadewi, Kris Basuki, Lily Tifa, dan Chaeroh Muhasim. "Jali-Jali" terbit sebanyak empat edisi selama tahun 1987-1990. Salah seorang penggerak jurnal berisi orang-orang hebat tersebut, Mona Lohanda Ph.D, kemudian menjadi guru sekaligus sahabat dari CGR.
Atas dukungan sejarawan, pengajar di FIB-UI, dan arsiparis kawakan dari Arsip Nasional RI yang juga seorang Cina Benteng itulah CGR kemudian menghubungi para ahli persoalan Betawi yang dikenalnya dengan baik: Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab (Guru Besar Antropologi FISIP-UI), Abdul Chaer (pakar linguistik), David Kwa (pengamat budaya Tionghoa-Peranakan), termasuk sebut saja Ahmad Iskandar Bait, Sarnadi Adam, dan Prof. Dr. Wahyu Wibowo. Dari Mona Lohanda, ia juga mendapat wewenang untuk memuat ulang tulisan-tulisan di dalam “Jali-Jali”.
Namun apa dinyana, lantaran kendala dana, akhirnya “Stamboel” hanya terbit satu edisi dari rencana terbit per enam bulan. Tidak ada tokoh Betawi dan lembaga-lembaga berembel-embel Betawi yang peduli pada kehadiran “Stamboel”. Tidak sebagai donatur pencetakan, tidak pula sebagai pembelian. Awal tahun 2021, dengan kebulatan tekad dan dukungan lebih banyak penggerak, “Stamboel” kembali diterbitkan dengan tetap secara mandiri dalam pendanaan yakni dari kantong pribadi CGR. Waktu terbitnya per tiga bulan. "Seperti perjaka yang semangat sendirian mengejar gadis yang adem-ayem saja, begitulah saya menjalankan Jurnal Stamboel." kata CGR.
Menurut CGR, pernah ada seorang sahabat yang memberi masukan kepadanya untuk berhenti menaruh perhatian pada Betawi melalui karya tulisan karena hanya membuang waktu dan energi. Tidak pula ada keuntungan materi dan penghargaan dari Pemprov DKI Jakarta. Namun CGR tidak melakukan masukan sang sahabat.
"Tidak apa saya 'kegirangan sendiri' menulis seputar Betawi, Batavia, Jakarta dan mengurus Jurnal Stamboel. Toh nanti bila saya mati, nama saya yang akan ada di perpustakaan, bahkan hingga perpustakaan di Belanda. Manusia hidup musti ade guna dan musti ade peninggalannye."
Pada edisi wajah baru yang terbitin Januari 2021, Kapur Sirih menampilkan kembali tulisan berjudul “Stamboel: Jurnal Betawi” karya Prof. Dr. Wahyu Wibowo dari Universitas Nasional, Jakarta, serta pada rubrik Mimbar kembali hadir tulisan Prof. Dr. Yusmar Yusuf dari Universitas Riau berjudul “Betawi: Al-Mulaqat Dunia”.
“Stamboel” memiliki beberapa rubrikasi, yakni: Perkatahan, Kapur Sirih, Mimbar, Jendela, Bareng, Potlot, Catatan Budaya, Kenangan, Plesir, Wajah, In Memoriam, Kabar Buku.
Mulai “Stamboel” wajah baru, sampul belakang menampilkan foto lama keluarga Betawi koleksi Djuhariah dari PSB UHAMKA, sebagai penghargaan pada karya amatir. Menurut CGR: “Selama ini kita terpaku pada foto karya James Page (1833-1865), Walter Bentley Woodbury (1834-1885), Kassian Cephas (1845-1912), dan lainnya. Padahal Pribumi tidak terkenal pun bisa menghasilkan foto yang memiliki nilai. Ide ini diperoleh saat Mona Lohanda minta ditampilkan kartu pos berisi iklan lama pada sampul belakang dua bukunya yang akan diterbitkan oleh Padasan.”
Dalam perjalanannya sejak terbit edisi pertama pada Oktober 2012, Stamboel sudah ditinggalkan oleh tujuh penggeraknya: Adji Subela (1 Januari 1952-24 Maret 2016), Mh Hamdan (23 Agustus 1978-12 Maret 2017), Ahmad Iskandar Bait (1 Januari 1966-2 Maret 2020), David Kwa (20 November 1956-7 September 2020), Mona Lohanda (4 November 1947-16 Januari 2021), Abdul Chaer (8 November 1940-13 September 2022), dan Ridwan Saidi (2 Juli 1942-25 Desember 2022). Selamat jalan, semoga tenang dan bersuka hati menikmati segala kebaikan yang pernah diperbuat di dunia.
Postingan bergerak di media sosial milik seorang anak muda Tanah Abang terkait kehadiran “Stamboel”, kiranya cukup menjadi cerminan. Ia menulis: Bahagia rasanya menerima kiriman paket Jurnal Stamboel keluaran Penerbit Padasan untuk masuk ke koleksi perpustakaan. Terima kasih yang tak terhingga buat Bang CGR yang sudah mau bersusah-payah membuat jurnal kajian sosio-kultural masyarakat Betawi kontemporer yang cukup serius di tengah segala keterbatasan yang ada. Teringat pesan dari Prof Yasmine Zaki Shahab sewaktu menghadiri promosi doktoral salah seorang dosen di FIB UI sebelum pandemi: “Mencari karya tulis ilmiah tentang masyarakat Betawi seperti mencari jarum dalam jerami.” Alhamdulillah kini sudah terbit "Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies" yang menjadi jendela untuk memahami lebih dalam tentang identitas dan perubahan sosial masyarakat Betawi.
Maka kita memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT serta mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada para penggerak dan pengisi “Stamboel”, serta kepada Cecep Syamsul Hari yang membantu mengurus ISSN pada 2012, para penggerak dan pengelola Betawi Center Foundation (2011), Forum Betawi Membaca (2012), Museum Etnografi Orang Betawi (2015), dan “Jali-Jali: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies” (1987-1990) yang menjadi inspirasi hadirnya "Stamboel".
*M. Arief Firdaus, dari berbagai sumber.
Dewan Penasehat:
Aba Mardjani, Abdul Chaer, Ahmad Iskandar Bait, Beky Mardani, Biem Benyamin, Candrian Attahiyyat, David Kwa, Dr. Edi Sukardi, Fachry Ali, Ichsanuddin Noorsy, Iwan Henry Wardhana, Dr. Margani M. Mustar, Mona Lohanda Ph.D, Dr. Mujizah Abdillah, Dr. Ninuk Kleden-Probonegoro, KH. Rakhmad Zailani Kiki, Ridwan Saidi, Sarnadi Adam, Dr. Syaiful Amri, Prof. Dr. Sylviana Murni, Dr. Tuti Tarwiyah, Prof. Dr. Wahyu Wibowo, Yahya Andi Saputra, Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab, Prof. Dr. Yusmar Yusuf
Pemimpin Redaksi/Penggagas/Perancang:
Chairil Gibran Ramadhan (CGR)
Redaktur Senior:
Afrizal Anoda, Ahmad Mathar Kamal, Fifi Firman Muntaco, Idrus F. Shahab, Lahyanto Nadie, Lilik Sofyan Ahmad, Sam Mukhtar Chaniago, Omar Abidin
Dewan Redaksi:
Adi Sulaiman, Djoehariah RM, Fadjriah Nurdiarsih, Fadly Kurniawan, Firman Djalut, Julie Indahrini, Kiftiawati, Mh Hamdan, Muhammad Ridwan Boim, Muhammad Yulius, Roni Adi, Syarifuddin Bachwani, Untung P. Napis
Kontributor:
Adji Subela, Daeng Mansur Amin, Hendaru Tri Hanggoro, Kemalsyah, Muhammad Sartono
Kontributor Foto:
Adi Prianda, Awaluddin Arief
Perancang logo:
Sarifuddin Anwar
Penata letak:
Syarwanih O’eng