Kharomah dan Keberkahan Makam Mbah Hamid di Pasuruan: Haul yang Penuh Makna

Table of Contents


Pasuruan, Monitor Pos — Setiap tahun, ribuan pelayat memadati Pondok Pesantren Salafiyah yang terletak di Bonsari sebelah Selatan alun-alun kota Pasuruan , Kedatangan mereka bukan sekadar untuk mengenang sosok Mbah Hamid, tetapi juga untuk merasakan langsung keberkahan dan karomah yang selama ini diyakini banyak orang sebagai anugerah dari Allah melalui sosok tersebut.

Minggu sebelum acara haul, suasana Pondok Pesantren Salafiyah sudah mulai ramai dengan kedatangan para pelayat dari berbagai penjuru. Mereka tidak hanya datang dari Pasuruan, tetapi juga dari luar kota, semua dengan tujuan yang sama: untuk melayat dan memohon berkah pada Mbah Hamid. Makam beliau, yang terletak di belakang Masjid Agung Al Anwar  di depan alun-alun, telah menjadi tempat yang penuh karomah, tak hanya bagi warga sekitar, tetapi juga bagi mereka yang datang dari jauh.

Menurut cerita menantu Mbah Hamid, setiap kali beliau membutuhkan sesuatu untuk acara haul, barang tersebut akan datang dengan sendirinya pada hari berikutnya. Tak jarang, kiriman itu datang dari orang yang sebelumnya tidak pernah berhubungan dengan beliau. Ini menjadi salah satu contoh nyata dari karomah Mbah Hamid yang sangat dirasakan oleh masyarakat Pasuruan, termasuk oleh keluarga terdekat beliau.

"Saya sendiri pernah merasakan keberkahan ini," ungkap salah satu keluarga yang turut hadir dalam acara haul. "Pernah suatu ketika, bapak saya mendapatkan sesuatu yang sangat dibutuhkan hanya dalam semalam, seolah-olah Mbah Hamid sudah memintakan segala sesuatu itu."

Acara haul Mbah Hamid selalu menjadi momen istimewa bagi warga Pasuruan. Pemerintah Kota Pasuruan bahkan menetapkan hari tersebut sebagai libur lokal setiap tahunnya. Sekolah-sekolah dan instansi pemerintah di kota ini pun diliburkan untuk memberi kesempatan bagi masyarakat untuk hadir dan berpartisipasi dalam acara haul.

Di setiap sudut jalan Kota Pasuruan, warga memasang sound system dan televisi untuk menyiarkan acara haul secara langsung. Ini menjadi bentuk penghormatan dan rasa syukur atas jasa-jasanya yang telah membawa berkah bagi Pasuruan. Selain itu, banyak rumah-rumah di sekitar Pondok Pesantren Salafiyah yang membuka pintu lebar-lebar, menyediakan makanan dan minuman bagi tamu-tamu yang datang untuk menghadiri acara haul.

Kegiatan haul ini tak hanya menjadi ajang mengenang sosok Mbah Hamid, tetapi juga menjadi kesempatan bagi warga Pasuruan untuk bersilaturahmi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mengingatkan kita akan pentingnya berdoa, bersyukur, dan terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah, seperti yang telah dicontohkan oleh Mbah Hamid dalam hidupnya.

Dengan segala karomah dan berkah yang dihadirkan, acara haul Mbah Hamid tetap menjadi momen yang penuh makna bagi warga Pasuruan, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa keberkahan seorang ulama dapat terus dirasakan meskipun beliau telah wafat.

S Aminah Firdaus