Indonesia Siapkan 12 Inovasi Pelayanan Publik Ikuti Guangzhou Award 2026

Table of Contents


Jakarta, Monitor Pos ~  Inovasi pelayanan publik milik Pemerintah Indonesia kembali berlaga di kancah internasional. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) menyiapkan 12 inovasi unggulan untuk mengikuti Guangzhou Award Tahun 2026, ajang penghargaan internasional bergengsi di bidang inovasi perkotaan dan pelayanan publik.

Deputi Bidang Pelayanan Publik Kementerian PANRB, Otok Kuswandaru, mengatakan partisipasi Indonesia dalam kompetisi ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam mendorong transformasi pelayanan publik melalui berbagai terobosan yang dihasilkan instansi pemerintah.

“Keikutsertaan Indonesia dalam ajang ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa pelayanan publik Indonesia telah menghadirkan berbagai terobosan yang layak mendapatkan apresiasi di tingkat dunia, sekaligus menegaskan keseriusan Indonesia dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar Otok saat Kick Off Meeting Fasilitasi Pendampingan Peserta Guangzhou Award 2026 yang digelar secara virtual, Kamis (29/1/2026).

Otok menjelaskan, ke-12 inovasi tersebut merupakan inovasi terbaik yang telah meraih penghargaan Outstanding Public Service Innovation (OPSI) pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tahun 2025. Inovasi-inovasi yang diusulkan antara lain Puskesmas Pakekan Hunter TB Stunting (PUSPA HUNTING); Kartu Digital Sungai Rumbai Sehat untuk Eradikasi Stunting; Serving The Villager; Peduli Kampung ASI (PEDULI KASI); Intervensi Nutrisi Tumbuh Kerja Berkelanjutan Atasi Stunting (IBUK ANTING); Peran Manajer dalam Korporasi Pertanian (PANDORA) Kabupaten Kebumen; KPBU APJ; Hari Belanja Cantik ke Pasar Tradisional dan UMKM; Strategi Pembentukan Kampung Iklim sebagai Mitigasi Perubahan Iklim menuju Smart Environment (SUPERMIE); Pusat Informasi Terpadu dan Responsif (PINTERES); GOKER WANGI; serta Baca Meter Mandiri.

Menurut Otok, fasilitasi dan pendampingan yang diberikan Kementerian PANRB merupakan bentuk apresiasi sekaligus penguatan berkelanjutan terhadap inovasi pelayanan publik daerah yang telah menjadi praktik baik di tingkat nasional. Selain itu, fasilitasi ini menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan capaian inovasi pelayanan publik Indonesia ke tingkat global.

“Upaya ini juga mendukung kontribusi Indonesia terhadap agenda pembangunan global, termasuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) dan New Urban Agenda (NUA),” jelasnya.

Diketahui, 7th Guangzhou International Award for Urban Innovation merupakan penghargaan internasional yang diselenggarakan oleh United Cities and Local Governments (UCLG) dan World Association of the Major Metropolises (Metropolis). Ajang ini bertujuan mengidentifikasi, mengakui, dan mempromosikan inovasi yang terbukti memberikan dampak nyata dalam meningkatkan keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta memperkuat tata kelola pemerintahan perkotaan dan daerah.

Otok berharap partisipasi Indonesia dalam Guangzhou Award 2026 mampu mendorong para inovator pelayanan publik untuk bersaing secara global, sekaligus memperluas sudut pandang dalam pengembangan inovasi di masing-masing instansi pemerintah.

“Kita harus membuktikan bahwa inovasi yang dihasilkan benar-benar menjawab persoalan publik dan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Director of KMMB Consulting, Mochamad Badowi, memaparkan pentingnya branding strategis inovasi pelayanan publik daerah serta peningkatan kualitas proposal. Ia menjelaskan enam pilar inovasi dalam kerangka kerja standar global, yakni kebijakan baru, strategi baru, tata kelola baru, teknologi terapan yang tepat guna, kemitraan baru, serta model bisnis baru.

Menurut Badowi, kebijakan publik harus disusun berbasis bukti dan riset empiris agar dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan. “Kebijakan tanpa strategi hanya akan berhenti di atas kertas dan tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi yang aplikatif dan tepat guna untuk memudahkan pelayanan kepada masyarakat, serta pengembangan kemitraan dan model bisnis baru agar inovasi dapat berkelanjutan dan berdampak luas.

Selain itu, Badowi menggarisbawahi tiga dimensi utama dalam branding strategis inovasi di tingkat global, yakni inovasi kebijakan, dampak sosial, dan positioning global. Menurutnya, inovasi daerah harus mampu diposisikan sebagai model percontohan dunia.

“Inovasi yang dilakukan di daerah, seperti Banyuwangi atau Bantaeng, harus bisa direplikasi dan diadaptasi di berbagai negara. Kita harus berpikir global, meskipun praktiknya dilakukan secara lokal,” ujarnya.

Sementara itu, Innovation Practitioner Budi Chairuddin menjelaskan bahwa penilaian Guangzhou Award mencakup empat kriteria utama, yakni inovasi, efektivitas, keberlanjutan kebijakan, dan signifikansi. Keempat kriteria tersebut menilai kontribusi serta dampak proyek dalam menjawab isu publik.

Ia juga memberikan sejumlah catatan penting dalam penulisan proposal, antara lain aspek kebaruan gagasan, capaian yang efektif dan solutif, dampak manfaat bagi masyarakat, potensi transferabilitas atau adaptasi di konteks lain, serta keberlanjutan inovasi.

@Iyus