BGN Fokuskan Program Makan Bergizi Gratis pada 1.000 Hari Pertama dan Usia 8–18 Tahun
Dalam konferensi pers di Bogor, Dadan menjelaskan bahwa 1.000 hari pertama kehidupan menjadi fase penentu perkembangan otak dan kecerdasan anak. Karena itu, intervensi program menyasar ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Sementara intervensi pada usia 8–18 tahun diarahkan untuk mengoptimalkan pertumbuhan fisik anak hingga remaja.
“Anak yang lahir hari ini, 20 tahun lagi akan menjadi tenaga kerja produktif. Jika tidak diintervensi sejak sekarang, kita berisiko menghadapi generasi 2045 yang kurang berkualitas,” ujar Dadan di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).
BGN mencatat Indonesia mengalami pertumbuhan penduduk sekitar enam orang per menit atau sekitar tiga juta jiwa per tahun. Dengan proyeksi jumlah penduduk mencapai 324 juta jiwa pada 2045, tantangan yang dihadapi bukan semata pada aspek kuantitas, melainkan kualitas sumber daya manusia.
Data yang dipaparkan menunjukkan sebagian besar anak Indonesia lahir dari keluarga dengan rata-rata lama pendidikan orang tua di bawah sembilan tahun, khususnya di provinsi besar seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Selain itu, sekitar 60 persen anak Indonesia disebut belum memiliki akses terhadap menu gizi seimbang.
Program MBG menargetkan 82,9 juta penerima manfaat yang terdiri atas ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta anak sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA, termasuk santri dan peserta didik di sekolah keagamaan.
BGN menegaskan bahwa pemenuhan gizi merupakan hak dasar anak Indonesia sejak dalam kandungan hingga usia 18 tahun. Meski demikian, pelaksanaan program ini tidak bersifat wajib.
“Kami menghormati sekolah atau orang tua yang memilih tidak menerima. Tidak ada paksaan,” kata Dadan.
Di Kota Bogor, sejumlah sekolah swasta kategori menengah ke atas seperti Mardiyuana, Regina Pacis, Bogor Raya, dan Syakira disebut memilih tidak menerima program MBG. Namun demikian, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bosowa Bina Insani tetap beroperasi untuk melayani sekolah-sekolah di sekitarnya.
BGN memastikan pelaksanaan program berbasis data dan akan terus melakukan pemutakhiran. Hal ini mengingat masih terdapat balita tanpa Nomor Induk Kependudukan (NIK) serta santri yang belum seluruhnya terdata dalam sistem kementerian terkait.
Melalui pendekatan terarah pada fase kritis tumbuh kembang dan penguatan basis data, pemerintah berharap Program MBG mampu menjadi fondasi strategis dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Fajar
