Menko Polkam: Prajurit Elite Harus Ditempa Disiplin, Profesionalisme, dan Kesiapan Tempur Tanpa Henti
Dalam arahannya, Menko Polkam menekankan bahwa Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) merupakan pasukan pemukul strategis yang digerakkan ketika negara menghadapi situasi kritis. Karena itu, Brigif 18/Trisula sebagai bagian dari kekuatan inti Kostrad dituntut senantiasa siap tempur, mampu bergerak cepat, serta memiliki daya gempur tinggi.
“Kostrad bukan satuan biasa. Ini adalah pasukan strategis yang digerakkan saat negara berada dalam kondisi genting. Pasukan elite dibentuk dan dilatih setiap hari, bukan saat menjelang adanya operasi. Tidak ada toleransi untuk kelalaian sekecil apa pun,” tegasnya.
Menurutnya, disiplin dalam setiap aktivitas menjadi fondasi utama pembentukan karakter prajurit yang tangguh di berbagai medan penugasan. Kesalahan kecil di medan tempur, ujarnya, dapat berujung pada kegagalan besar yang berdampak luas.
Menko Polkam juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang kompeten, berkarakter, serta memiliki kecintaan kuat terhadap tanah air. Seorang pemimpin, kata dia, harus memahami kemampuan prajuritnya sekaligus mendorong peningkatan kapasitas satuan secara berkelanjutan.
“Pasukan elite ditandai oleh pemimpin yang hadir di depan, bukan di belakang. Rantai komando harus tegas, jelas, dan dihormati seluruh anggota satuan. Kualitas satuan sangat ditentukan oleh kualitas para perwira yang memimpinnya. Di tengah dinamika dan eskalasi politik global yang sulit diprediksi, profesionalisme prajurit menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas nasional,” ujar Menko yang pernah menjabat sebagai Komandan Brigif Linud 18/Trisula ke-16 pada 1992–1993.
Ia mengingatkan, berbagai konflik global harus menjadi pelajaran agar bangsa Indonesia tetap kuat dan solid. Prajurit, tegasnya, harus senantiasa mencintai tanah air serta bersinergi menjaga keutuhan bangsa dari ancaman internal maupun eksternal yang dapat memecah belah persatuan.
Dalam kesempatan tersebut, Djamari Chaniago mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Brigif 18/Trisula karena pernah bertugas sebagai Kepala Staf Brigade dan Komandan Brigade di satuan tersebut. Ia menyampaikan rasa bangganya terhadap prajurit Brigif 18/Trisula sebagai bagian inti kekuatan Divisi 2/Kostrad.
Selain peningkatan kemampuan tempur melalui latihan rutin, ia menekankan pentingnya penguasaan teknologi modern sebagai bagian dari transformasi kekuatan pertahanan nasional. Menurutnya, TNI tidak hanya harus unggul di medan perang, tetapi juga menguasai perkembangan teknologi dan hadir di tengah masyarakat untuk memberikan dampak kesejahteraan.
Sejalan dengan arahan Presiden, ia menegaskan bahwa TNI harus hadir membantu masyarakat, termasuk dalam penanganan bencana banjir di Sumatera. Kehadiran prajurit dalam membantu warga terdampak merupakan bukti nyata bahwa negara hadir di setiap kesulitan rakyat.
Menko Polkam juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga kekompakan dan bekerja sama menyukseskan berbagai program prioritas pemerintah, seperti SPPG, Sekolah Rakyat, Pengobatan Gratis, dan Koperasi Merah Putih, demi kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.
Di akhir pengarahannya, ia kembali menekankan pentingnya peningkatan profesionalitas melalui latihan berkelanjutan dan kompetisi sehat antar-satuan.
“Prajurit yang handal lahir dari kompetisi yang sulit. Dan yang utama, tidak ada titik berhenti dalam pengabdian kepada negara. Sebelum tembakan salvo berbunyi, pengabdian seorang prajurit belum berakhir,” pungkasnya.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Sekretaris Kemenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, para Deputi Kemenko Polkam, Panglima dan Kepala Staf Divif 2 Kostrad Mayjen TNI Syaiful Sulun dan Brigjen TNI Septaviandi, Danbrigif 18/Trisula Letkol Inf Paulus Pandjaitan, serta jajaran perwira Divisi 2/Kostrad.
S Aminah Firdaus
