Program Makan Bergizi Gratis di Ambon Berjalan dengan Pengawasan Ketat
Penyaluran MBG di Kota Ambon dikelola melalui Dapur Ahusen I dan Dapur Ahusen II yang seluruh prosesnya dilaksanakan berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat dan berlapis.
Perwakilan Mitra MBG, Prio Maharaja, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (3/2/2026), menjelaskan bahwa mekanisme penyaluran MBG ke 14 sekolah mitra tingkat SMP dan SMA di Kota Ambon telah dirancang dengan sistem pengawasan menyeluruh.
Menurut Prio, seluruh makanan yang diproduksi dalam program MBG telah melalui tahapan pengawasan higienitas secara ketat sebelum didistribusikan ke sekolah penerima manfaat.
“Setiap makanan sebelum dipacking ke dalam ompreng terlebih dahulu diuji dan dicicipi oleh chef, Kepala SPPG, serta ahli gizi. Seluruh SPPG telah memenuhi standar dan memiliki kompetensi sesuai ketentuan,” ujar Prio.
Ia menambahkan, bahan baku yang digunakan dipastikan dalam kondisi bersih, aman, bebas hama, serta memiliki masa kedaluwarsa yang masih panjang, sehingga potensi risiko kerusakan bahan dapat dicegah sejak awal proses produksi.
Lebih lanjut, Prio menjelaskan bahwa tanggung jawab operasional berada pada pihak mitra, sementara pengawasan dapur dikoordinasikan langsung oleh Kepala SPPG. Seluruh alur kerja, mulai dari proses produksi hingga distribusi, dimonitor secara menyeluruh oleh SPPG hingga pemerintah.
Terkait mekanisme penanganan apabila ditemukan makanan yang kurang layak, Prio menegaskan bahwa pihak sekolah melalui Person in Charge (PIC) dapat segera melaporkan kepada SPPG dan mitra untuk dilakukan evaluasi dan penanganan cepat.
“Setiap laporan akan kami tindak lanjuti secara cepat melalui koordinasi bersama pihak sekolah agar permasalahan dapat diselesaikan secara tepat,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh sekolah mitra telah memiliki nota kesepahaman (MoU) resmi dengan Kepala SPPG, dan pihak mitra berkomitmen penuh menjalankan seluruh tanggung jawab sesuai perjanjian tersebut.
Sementara itu, Kepala SPPG Dapur MBG Ahusen I, Riviandri A. Sitaniapessy, dan Kepala SPPG Dapur MBG Ahusen II, Rizaldi H. Tomu, menyampaikan bahwa pelaksanaan program MBG dijalankan dengan sistem pengawasan berlapis sesuai struktur organisasi dan SOP di setiap divisi.
“Monitoring dilakukan sejak tahap persiapan bahan, proses memasak, hingga makanan diterima di sekolah,” ujar keduanya.
Mereka menjelaskan bahwa setiap sekolah memiliki PIC yang bertugas mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada siswa. Apabila ditemukan makanan yang kurang layak, PIC wajib segera melaporkan agar makanan tersebut tidak dikonsumsi.
“Langkah ini merupakan bagian dari upaya pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB). Setiap laporan menjadi bahan evaluasi dan perbaikan ke depan,” jelasnya.
Selain itu, program MBG memiliki batas ketahanan maksimal enam jam, sehingga sistem produksi dibagi ke dalam dua shift memasak untuk kebutuhan sekolah pagi dan siang. Setiap menu juga diambil sampelnya sebagai bagian dari kontrol kualitas.
Lebih jauh, program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi siswa, tetapi juga berperan dalam menggerakkan perekonomian lokal melalui pelibatan UMKM, petani, peternak, serta membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Dengan keterlibatan sekitar 47 relawan di setiap dapur MBG, berbagai penyesuaian dan proses pembelajaran terus dilakukan. Namun demikian, seluruh pihak berkomitmen untuk melakukan perbaikan berkelanjutan.
“Kami berkomitmen menjaga amanah program Presiden Prabowo Subianto sebagai wujud perhatian negara kepada generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas,” tutup Prio.
Aisyah
