Jangan Ada Yang Datang Bila Diundang Presiden Prabowo

Table of Contents
PRABOWO HANYA PEDULI DENGAN KEKUASAANNYA, BUKAN PADA RAKYAT

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik 

”Sebaiknya, kedepan jangan ada yang datang diundang Prabowo : dia cuma mau pencitraan !” (Status Facebook). 

Prabowo Subianto, mengaku Jokowi adalah guru politiknya. Dalam konteks pengakuan ini, nampaknya Prabowo tidak omon-omon. Prabowo, benar-benar Ittiba’ (baca: meneladani) karakter politik Jokowi. Ilmu politik Jokowi yang diamalkan Presiden Prabowo Subianto dalam memimpin Negara, yang secara konsisten dilakukan adalah: bohong, ingkar & khianat.

Ilmu politik Jokowi, berupa bohong, ingkar & khianat terlihat konsisten dipraktikkan oleh Prabowo. Ilmu politik ini, menurut ajaran Nabi Muhammad SAW adalah ciri-ciri atau tanda orang munafik.

Misalnya, saat mengundang sejumlah aktivis (Said Didu, Abraham Samad, dll), Prabowo menjanjikan akan menindaklanjuti tuntutan Reformasi POLRI melalui dua kebijakan. Pertama, mengganti Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo. Kedua, menempatkan POLRI dibawah kementerian sebagaimana TNI ditempatkan dibawah Kemenhan.

Hanya saja, saat itu yang masih belum dipastikan adalah apakah POLRI ditempatkan dibawah kementerian yang ada (misal: dibawah Kemendagri), atau membentuk kementerian baru untuk menaungi Polri.

Alih-alih menempatkan Polri dibawah kementerian, mencopot dan mengganti Kapolri pun tidak. Padahal, tuntutan percepatan reformasi Polri itu salah satunya yang dituntut adalah pergantian Kapolri. Ujungnya, nyawa Afan Kurniawan melayang oleh kebiadaban Brimob Polri, pergantian Kapolri sebagai bentuk pertanggungjawaban publik tak terjadi.

Pada isu pelemahan KPK, Prabowo cenderung menikmati pelemahan KPK era JOKOWI. Sehingga, KPK bisa dijadikan alat penguasa. Atas dasar itulah, Prabowo hingga saat ini bungkam dan enggan menerbitkan Perppu untuk menguatkan kembali KPK dg mengembalikan kewenangan KPK berdasarkan UU sebelumnya.

Ketika para ulama menyuarakan penolakan BoP nya Trump, perjajian dagang dengan Trump dan penarikan TNI dari Gaza, Prabowo tak menggubris. Lalu, sejumlah ulama diundang bukan untuk didengar nasehatnya. Ulama malah dijadikan juru bicara Prabowo, sibuk menasihati umat agar memahami kebijakan Presiden.

Sampai ada ulama yang bicara “minta doakan Prabowo, menjadi Presiden itu tidak mudah”. Seolah olah ulama ini baru tahu jabatan Presiden itu sulit, seolah olah tak ngerti Prabowo berebut jabatan Presiden saat Pilpres.

Jadi, bukannya ulama menasihati penguasa. Penguasa, malah memerintahkan ulama untuk menasihati umat agar tunduk pada kezaliman penguasa.

Terakhir, Prabowo mengundang sejumlah tokoh dan jurnalis. Ada Chatib Basri hingga Nahwa Shihab. Dalam dialog, bahasa semiotik yang bisa ditangkap adalah Prabowo minta rakyat ngertiin Presiden. Bukan Presiden yang mendengar dan memahami keinginan dan kebutuhan rakyat.

Dalam konteks menyampaikan aspirasi, penulis berkesimpulan tak ada maslahatnya memenuhi undangan Presiden. Karena forum itu, lebih kental untuk alat pencitraan ketimbang mendengar aspirasi.

Sehingga, para tokoh dan ulama sebaiknya jangan mendatangi pintu penguasa. Kritik saja terbuka dengan nasehat yang hari ini begitu mudah informasinya sampai ke istana. Tak usah, menjadi alat legitimasi bagi kezaliman penguasa. [].