Kritik Domestik Menguat, Kebijakan Perang AS terhadap Iran Dinilai Tekan Ekonomi

Table of Contents

Senator Elizabeth Warren
Monitor Pos  - Keputusan Presiden Donald Trump untuk melancarkan serangan terhadap Iran terus menuai kritik di dalam negeri. Memasuki pekan ketiga konflik, dampak ekonomi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Amerika Serikat, terutama melalui kenaikan harga energi dan kebutuhan pokok.

Lonjakan harga minyak mentah dunia terjadi setelah Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur utama distribusi energi global. Kondisi ini berdampak langsung pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di AS, yang kemudian memicu kenaikan harga berbagai barang konsumsi lainnya.

Kritik terbaru datang dari Senator Elizabeth Warren. Politisi Partai Demokrat dari Massachusetts itu melayangkan surat resmi pada Jumat (20/3/2026) kepada sejumlah pejabat pemerintahan, menuntut penjelasan terkait dampak ekonomi dari kebijakan perang tersebut.

Dalam suratnya, Warren mengungkapkan kekhawatiran serius terhadap arah kebijakan Presiden Trump yang dinilai berisiko besar bagi stabilitas ekonomi nasional. Ia menyoroti potensi kenaikan harga pangan, energi, serta barang ritel yang dapat semakin membebani masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah dan bawah.

“Saya menulis hari ini dengan kekhawatiran besar bahwa Presiden Trump sedang melemahkan ekonomi yang sudah rapuh, dan akan terus melakukannya, dengan menggelontorkan miliaran dolar ke dalam perang yang akan mendorong kenaikan harga, memperlambat pertumbuhan, dan membuat keluarga Amerika menanggung biaya lebih tinggi,” ujar Warren, seperti dilaporkan CNBC, Sabtu (21/3/2026).

Sebagai anggota senior di Komite Perbankan Senat, Warren juga menilai konflik tersebut memperparah tekanan ekonomi yang telah ada sebelumnya. Ia mengkritik belum adanya langkah konkret dari pemerintahan Trump untuk mengendalikan lonjakan harga dan menjaga daya beli masyarakat.

“Daftar konsekuensi ekonomi ini terus bertambah, dan tampaknya Pemerintahan Trump tidak memiliki rencana yang berarti untuk menjaga harga tetap rendah atau mencegah warga Amerika kekurangan barang yang mereka butuhkan,” tegasnya.

Saat ini, harga energi global mengalami kenaikan signifikan, dengan harga minyak dunia mendekati 110 dolar AS per barel. Sementara itu, harga bensin di AS hampir menyentuh 4 dolar AS per galon—sekitar 1 dolar lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan biaya energi tersebut diperkirakan akan mendorong inflasi lebih tinggi selama konflik berlangsung, termasuk efek lanjutan terhadap harga pangan dan barang konsumsi lainnya.

Dalam suratnya, Warren juga mempertanyakan apakah Presiden Trump telah melakukan analisis komprehensif terkait dampak ekonomi sebelum memulai perang, termasuk proyeksi harga hingga sisa tahun 2026. Surat tersebut ditujukan kepada sejumlah pejabat ekonomi utama, seperti Menteri Keuangan, Direktur Dewan Ekonomi Nasional, serta pimpinan Dewan Penasihat Ekonom AS

RED