Penutupan Aceh Ramadhan Festival 2026 Berlangsung Khidmat di Masjid Raya Baiturrahman
Acara tersebut turut dihadiri Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, yang secara simbolis memukul bedug di halaman masjid. Dentuman bedug itu menjadi penanda dimulainya buka puasa bersama yang diikuti masyarakat serta para undangan yang hadir.
Setelah prosesi tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan santap berbuka puasa bersama dan salat Magrib berjamaah di kompleks masjid yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat Aceh tersebut.
Dalam suasana Ramadan yang penuh kehangatan itu, Tito menyampaikan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk mengingat turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Surah Al-Alaq, yang menandai awal diturunkannya Al-Qur’an.
“Sekarang kita bisa berkumpul di masjid kebanggaan kita dalam suasana Ramadan, di malam Nuzulul Qur’an. Wahyu pertama Surah Al-Alaq diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq,” ujarnya di hadapan jamaah yang hadir.
Pada kesempatan tersebut, Tito juga mengungkapkan perkembangan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menjelaskan bahwa bencana yang terjadi sebelumnya berdampak pada 52 kabupaten/kota di tiga provinsi tersebut.
Sejak hari pertama kejadian, pemerintah pusat langsung mengerahkan berbagai kekuatan nasional untuk melakukan penanganan darurat. Personel Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana diterjunkan ke berbagai wilayah terdampak untuk membantu masyarakat.
Tim gabungan bahkan harus menembus sejumlah daerah yang akses jalannya terputus akibat banjir dan kerusakan infrastruktur, termasuk menyeberangi sungai yang jembatannya rusak.
“Karena kecintaan saya pada Aceh, hari ini saya melihat situasinya sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika saya datang pada 29 November lalu,” kata Tito.
Menurutnya, kondisi wilayah terdampak kini jauh membaik dibandingkan saat awal bencana pada akhir November. Listrik yang sebelumnya baru pulih sekitar 50 persen kini telah kembali hampir sepenuhnya di sebagian besar wilayah terdampak di tiga provinsi tersebut.
Selain itu, jaringan internet yang sempat terputus kini mulai kembali normal. Distribusi logistik ke wilayah pegunungan seperti Aceh Tengah juga berangsur membaik, sementara aktivitas pasar dan perekonomian masyarakat mulai kembali bergerak.
“Aktivitas pasar dan perekonomian masyarakat mulai berjalan kembali, semua karena kerja keras kita bersama dan berkah dari Allah SWT,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah masih terus melakukan penanganan di sejumlah wilayah yang terdampak banjir lumpur dan longsor, antara lain di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya, dan Bireuen. Penanganan juga difokuskan pada daerah pegunungan seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah yang masih mengalami kerusakan jalan serta jembatan sementara.
Tito menjelaskan pemerintah telah menyalurkan bantuan tahap pertama kepada masyarakat terdampak, mulai dari bantuan perbaikan rumah hingga bantuan perorangan.
“Rumah rusak ringan mendapatkan bantuan Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta. Selain itu ada bantuan perorangan berupa uang lauk pauk Rp15 ribu per hari, bantuan perabotan Rp3 juta, serta stimulan ekonomi Rp5 juta,” jelasnya.
Ia menyebutkan total bantuan gelombang pertama yang telah disalurkan mencapai sekitar Rp900 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp400 miliar dialokasikan untuk wilayah Aceh, termasuk Rp241,6 miliar yang disalurkan di Pidie Jaya.
Selain bantuan pemulihan, pemerintah juga menyalurkan bantuan perlengkapan ibadah bagi masyarakat terdampak, termasuk ribuan perlengkapan salat serta Al-Qur’an wakaf dari Presiden yang akan dibagikan kepada warga yang membutuhkan.
“Ada 5.000 perlengkapan salat, kemudian Al-Qur’an wakaf dari Bapak Presiden yang totalnya 70 ribu, namun hari ini kita bagikan 5.000 di sini. Ada sajadah, sarung, dan mukena. Insyaallah bermanfaat dan mohon diberikan kepada yang berhak,” tutupnya.
Dalam kegiatan tersebut, Tito turut didampingi Saifullah Yusuf, Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Wakil Gubernur Aceh Fadlullah, serta Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA.
Zulkarnain
