Kartini Haru, Kehidupan Penyintas di Huntara Bener Meriah Mulai Pulih
Pertemuan tersebut mengingatkan Kartini pada momen dua bulan lalu, ketika ia pertama kali bertemu Tito dalam kondisi penuh kesedihan setelah kehilangan suaminya yang hanyut dalam bencana pada akhir November 2025. Dalam situasi serba tidak pasti kala itu, Kartini mengungkapkan kebingungannya dalam menghadapi masa depan bersama kedua anaknya.
“Saat itu saya hanya bisa bercerita. Saya kehilangan suami, dan bingung bagaimana melanjutkan hidup bersama anak-anak. Pak Tito berjanji akan mempercepat pembangunan hunian sementara agar kami bisa tinggal lebih layak,” ujar Kartini.
Kini, kondisi tersebut telah berubah. Dengan wajah yang masih menyiratkan duka, Kartini memberanikan diri mendekati Tito di tengah kerumunan warga saat peninjauan huntara. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang telah diberikan pemerintah.
“Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Kehidupan kami jauh lebih baik dibandingkan saat masih tinggal di tenda darurat,” katanya.
Dalam pertemuan singkat itu, Tito langsung mengenali Kartini. Ia bahkan menanyakan kabar kedua anaknya, menunjukkan bahwa pertemuan sebelumnya masih melekat dalam ingatannya. Kartini pun mengungkapkan bahwa kondisi keluarganya kini sudah membaik.
Meski merasa lebih nyaman tinggal di huntara, Kartini berharap dapat segera menempati hunian tetap (huntap) agar bisa menata kembali kehidupannya secara lebih stabil bersama anak-anaknya.
Sementara itu, Tito menilai kondisi para penyintas di Desa Tunyang telah mengalami kemajuan signifikan dibandingkan dua bulan sebelumnya. Ia mengapresiasi pembangunan huntara yang dinilai tertata rapi serta dilengkapi fasilitas memadai, seperti sanitasi, tempat bermain anak, sarana olahraga, aula, dan tempat ibadah.
“Perubahannya sangat terasa. Dulu masyarakat masih dalam suasana duka, kini mereka sudah mulai tersenyum dan beraktivitas kembali,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah akan memastikan penyaluran berbagai bantuan kepada para penyintas. Bantuan tersebut meliputi jaminan hidup sebesar Rp15.000 per orang per hari selama tiga bulan, bantuan isi hunian sebesar Rp3 juta, serta bantuan stimulan ekonomi sebesar Rp5 juta per kepala keluarga.
Program bantuan tersebut diharapkan dapat menjaga keberlangsungan hidup masyarakat selama menunggu pembangunan hunian tetap selesai.
Tito juga menekankan pentingnya percepatan pendataan calon penerima huntap oleh pemerintah daerah. Ia menyebutkan bahwa terdapat dua skema pembangunan yang perlu dipastikan, yakni hunian tetap di lokasi semula (in-situ) dan hunian komunal dalam satu kawasan.
“Pendataan harus segera diselesaikan agar pembangunan huntap dapat berjalan tepat sasaran sesuai kebutuhan warga,” tegasnya.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, pemerintah berharap proses pemulihan pascabencana di Bener Meriah dapat berjalan optimal, sekaligus mengembalikan harapan para penyintas untuk memulai kehidupan yang lebih baik.
