Mentrans Tekankan Kewaspadaan Tinggi Prajurit TNI dalam Misi Perdamaian di Lebanon
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul dinamika konflik yang terus berkembang di kawasan tersebut, termasuk kabar gugurnya prajurit TNI dalam pelaksanaan tugas. Mentrans, yang juga merupakan veteran UNIFIL, menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa tersebut.
“Saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya prajurit TNI. Tantangan terbesar di lapangan adalah ketidakpastian. Karena itu, kewaspadaan harus selalu dijaga, mengingat eskalasi konflik dapat meningkat sewaktu-waktu,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).
Ia menekankan bahwa dalam situasi yang fluktuatif, setiap prajurit dituntut memiliki kesiapsiagaan tinggi serta kemampuan mengambil keputusan secara cepat dan tepat di lapangan.
Berbagi pengalaman saat bertugas di Lebanon pada periode 2006–2007 pascakonflik bersenjata, Iftitah menjelaskan bahwa tugas pasukan perdamaian tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga menghadapi kompleksitas tantangan yang tidak dapat diprediksi.
“Tugas pasukan perdamaian adalah menjaga perdamaian itu sendiri. Namun dalam praktiknya, hal tersebut tidaklah mudah,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa mandat pasukan perdamaian mengacu pada Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya Chapter VI dan Chapter VII. Dalam konteks UNIFIL, mandat tersebut memiliki karakteristik tersendiri yang sering disebut sebagai “Chapter 6,5”, merujuk pada Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB.
Menurutnya, kondisi di wilayah penugasan sangat dinamis dan rentan terhadap perubahan situasi secara tiba-tiba. “Di permukaan terlihat normal, namun potensi eskalasi konflik selalu ada,” tegasnya.
Selain ancaman fisik seperti ranjau, prajurit juga dihadapkan pada tekanan psikologis yang tinggi selama menjalankan tugas. Oleh karena itu, pendekatan dalam operasi perdamaian berbeda dengan operasi militer konvensional.
“Di sana kita bukan untuk berperang, tetapi menjaga perdamaian. Senjata digunakan untuk membela diri, bukan untuk menyerang,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya disiplin dalam menjalankan prosedur serta pemahaman terhadap aturan pelibatan atau rules of engagement yang terus berkembang sesuai kondisi lapangan.
“Kewaspadaan tidak boleh kendor. Ikuti seluruh protokol yang telah ditetapkan oleh PBB agar keselamatan tetap terjaga,” pesannya.
Kementerian Transmigrasi turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh prajurit perdamaian Indonesia yang menjalankan amanat konstitusi dalam menjaga ketertiban dunia, sekaligus mendoakan keselamatan mereka dalam setiap penugasan di wilayah konflik.
Shinta
