Tito Karnavian Ajak Pelajar Atambua Jadi Garda Depan Pencegahan Kekerasan
Dalam kunjungan tersebut, Tito mengajak para pelajar untuk mengambil peran aktif dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan, khususnya yang menyasar kelompok rentan seperti perempuan dan anak. Ia menekankan bahwa kekerasan tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga dapat muncul melalui ucapan atau tindakan verbal yang kerap dianggap sepele.
Mengacu pada data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Tito mengungkapkan tren peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 tercatat 289.111 kasus, meningkat menjadi 330.097 kasus pada 2024, dan kembali naik sebesar 14,07 persen pada 2025 menjadi 376.529 kasus.
Menurutnya, upaya pencegahan sekecil apa pun memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif. Ia menggambarkan bahwa mencegah satu tindakan kekerasan saja dapat berkontribusi signifikan apabila dilakukan secara luas di seluruh daerah.
“Jika setiap individu mampu mencegah satu kasus, maka dampaknya bisa sangat besar ketika dilakukan di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia,” ujarnya dalam kegiatan sosialisasi perlindungan terhadap perempuan dan anak dari tindak kekerasan fisik dan verbal.
Tri menjelaskan, program yang dijalankan TP PKK tidak hanya berfokus pada perlindungan, tetapi juga pada pembentukan karakter, baik bagi anak maupun orang tua. Ia menilai masih terdapat tantangan dalam pola pengasuhan di masyarakat yang memerlukan penguatan melalui edukasi berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya membangun lingkungan yang bebas dari budaya kekerasan, baik di dalam keluarga, sekolah, maupun ruang sosial lainnya. Menurutnya, perubahan harus dimulai dari kesadaran individu dan diperkuat melalui nilai-nilai kebersamaan.
Tito juga menekankan bahwa generasi muda perlu memiliki karakter yang kuat, tangguh, dan berintegritas, seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Hal tersebut dinilai menjadi bekal utama dalam menghadapi dinamika sosial yang semakin kompleks.
Ia turut menyoroti fenomena yang kerap disebut sebagai “generasi stroberi”, yakni generasi yang dianggap mudah rapuh dan rentan terhadap tekanan mental. Dalam pesannya kepada para pelajar, Tito mendorong mereka untuk menjadi generasi yang kuat dan tidak mudah menyerah.
“Generasi muda harus mampu menghadapi berbagai tantangan dengan ketahanan mental yang baik. Dalam situasi apa pun, mereka harus tetap berdiri kokoh dan tidak mudah goyah,” tegasnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan TP PKK dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya perlindungan perempuan dan anak, sekaligus memperkuat fondasi karakter generasi penerus bangsa.
Bima Satria
