Apakah Anda HTI?
APAKAH ANDA ANGGOTA HTI?
Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Advokat
[Catatan Kajian Ba'da Subuh, Masjid Baitul Mukhlisin, Perum Bulak Kapal, Ahad 26 April 2024]
Menarik sekali, saat penulis mengisi kajian Ba'da Subuh, di Masjid Baitul Mukhlisin, Perum Bulak Kapal, Ahad lalu (26/4). Saat itu, terasa sekali ruh kebersamaan, persatuan dan ukhuwah segenap jama'ah.
Tema kajian memang seputar Persatuan dan Ukhuwah Islamiyah. Dalam kajian, penulis menekankan persaudaraan dan persatuan karena akidah Islam, bukan karena nasab, suku, bangsa, termasuk mahzab. Tidak perlu memperuncing perbedaan Sunni Syiah, mahzab Syafi'i atau Hanafi, termasuk apa aktif di HTI, FPI, NU, Muhammadiyah, Salafi, Persis, dll.
Sepanjang tidak menyimpang dari dalil pokok pokok agama, sesuatu yang qot'i baik tsubut maupun dilalah, maka biarkanlah umat ini berijtihad dan taklid pada ulama dan gurunya masing-masing. Memang idealnya, ada satu kesatuan imam (kepemimpinan) yang dalam hal krusial umat ini disatukan.
Misalnya untuk urusan Idul Fitri. Lebaran yang lalu, setidaknya umat ini merayakan Idul Fitri tiga waktu, ada yang merayakan hari Kamis, Jum'at, hingga Sabtu.
Padahal, kaidah syara' menyatakan:
أمر الإمام يرفع الخلاف
حكم الحاكم يرفع الخلاف
Amrul Imam yarfa'ul khilaf
Hukmul Hakim yarfa'ul khilaf
"Perintah/keputusan pemimpin (hakim/imam) menghilangkan perbedaan pendapat".
Saat ini, umat terpecah belah karena banyaknya imam/pemimpin dalam banyak entitas negara, baik berbentuk Republik maupun Kerajaan. Umat tidak lagi bersatu dibawah naungan Daulah Khilafah, sejak negara kaum muslimin ini diruntuhkan pada tahun 1924.
Akibatnya, umat terpecah belah, berselisih dan menjadi lemah. Umat Islam diperebutkan orang kafir, laksana hidangan diatas nampan.
Derita Muslim Palestina, Uighur, Sudan, Moro, Muslim India, dan banyak di negeri muslim lainnya, tidak ada yang membela. Umat terpecahbelah dengan semangat Ta'ashub (nasionalisme). Padahal, Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ
"Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak pada 'ashabiyah (fanatisme golongan)."
Fanatisme itu disandarkan pada bangsa, bukan pada agama. Akhirnya, umat yang dulu disatukan oleh akidah Islam kini dipecah-belah oleh sentimen kebangsaan (nasionalisme).
Nasionalisme sengaja diinjeksikan oleh penjajah pada benak kaum muslimin, agar harta kaum muslimin mudah dijarah. Agar kaum muslimin menjadi lemah, tidak memiliki persatuan untuk melawan penjajah.
Arab, non Arab, Persia, Indonesia, Malaysia, semuanya bukanlah identitas yang menyatukan. Hanya identitas penanda karakter, bukan penentu asas persatuan.
Alhasil, umat hari ini hanya akan kembali bangkit, ketika umat ini bersatu dibawah ikatan akidah Islam dan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Tidak ada jalan lain, kecuali dengan menegakkan Khilafah, institusi pemersatu Islam yang mengikat ukhuwah Islamiyah, menerapkan Islam dan mengemban risalah dakwah Islam ke seluruh penjuru alam.
Dalam setiap Kajian Ba'da Subuh, selalu penulis sampaikan tentang pentingnya penegakan syariah dan Khilafah. Sampai-sampai ada yang bertanya, apakah penulis anggota HTI?
Seolah-olah, syariah dan Khilafah adalah ajaran HTI. Padahal, syariah dan khilafah adalah ajaran Islam. Jadi, ketika umat ini yang berakidah Islam, sudah pasti terikat dengan kewajiban menegakkan syariah dan Khilafah.
Jadi, bukankah tidak relevan lagi, mempertanyakan anggota HTI atau bukan, hanya karena konsisten mendakwahkan Syariat dan Khilafah, bukan?
Yang menarik, dalam setiap selesai kajian subuh, penulis selalu melihat keakraban jamaah di setiap masjid yang penulis kunjungi. Termasuk di Masjid Baitul Mukhlisin, dimana pasca kajian jama'ah begitu rukun, menikmati hidangan sambil bercengkrama bersama. [].
