Dari Dapur ke Penerima Manfaat: Ketelitian Jadi Kunci Layanan Gizi di Bogor
Di antara rangkaian proses tersebut, Muhammad Dariel Syahrul Ramadhan menjalankan peran penting pada tahap pemorsian, yakni fase akhir sebelum makanan didistribusikan kepada penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pada tahap ini, setiap porsi makanan harus dipastikan memiliki takaran yang sama, tersusun rapi, serta memenuhi standar kelayakan. Ketelitian menjadi faktor utama, mengingat dapur tersebut memproduksi sekitar 2.916 porsi makanan setiap hari.
“Jumlahnya besar, jadi kami harus benar-benar teliti agar setiap porsi tetap konsisten,” ujar Dariel.
Selain ketepatan, proses kerja juga menuntut kecepatan agar distribusi dapat dilakukan tepat waktu. Dalam kondisi tersebut, standar kebersihan tetap dijaga secara ketat, termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD) dan prosedur higienitas yang disiplin.
Menurut Dariel, penerapan standar tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan makanan aman untuk dikonsumsi, terutama karena sasaran utama program adalah anak-anak.
“Semua harus steril, karena ini langsung dikonsumsi. Jadi kebersihan benar-benar dijaga,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, ia mengaku semakin memahami tanggung jawab dari pekerjaannya. Kesadaran bahwa makanan yang disiapkan akan dikonsumsi langsung oleh masyarakat membuatnya bekerja dengan lebih cermat dan fokus.
Meski bekerja dalam tekanan waktu, Dariel menilai suasana kerja di dapur tetap kondusif. Kerja sama tim yang solid menjadi kunci kelancaran proses produksi, di mana setiap anggota memahami perannya masing-masing.
“Lingkungannya mendukung, jadi walaupun cepat, tetap bisa dinikmati,” ujarnya.
Lebih jauh, pengalaman pribadinya turut memperkuat makna dari pekerjaan tersebut. Dua anggota keluarganya diketahui menjadi penerima manfaat program MBG, meskipun dari dapur yang berbeda.
Hal ini memberinya perspektif langsung mengenai dampak program terhadap masyarakat. Ia dapat melihat bagaimana makanan yang disiapkan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh penerima.
“Di rumah sering cerita soal menu yang didapat. Dari situ saya tahu manfaatnya nyata,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menumbuhkan kesadaran bahwa pekerjaannya bukan sekadar rutinitas harian, melainkan bagian dari sistem pelayanan publik yang lebih luas. Ia menilai setiap tahapan, termasuk pemorsian, memiliki kontribusi penting dalam memastikan kualitas layanan.
Di balik ribuan porsi yang dihasilkan setiap hari, terdapat proses yang dijalankan dengan konsistensi, standar yang dijaga, serta tanggung jawab yang melekat pada setiap petugas. Dalam ekosistem tersebut, peran individu menjadi bagian dari upaya kolektif untuk menghadirkan layanan gizi yang layak dan merata bagi masyarakat.
Kurniawan
