Minyak Jelantah Program MBG Berpotensi Perkuat Energi Hijau Nasiona
Potensi tersebut mencuat dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Badan Gizi Nasional dan PT Pertamina (Persero)� di Jakarta, Kamis (7/5), terkait pengelolaan minyak jelantah hasil operasional ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa setiap SPPG rata-rata menggunakan sekitar 800 liter minyak goreng per bulan. Dari jumlah tersebut, sebagian besar akan berubah menjadi minyak jelantah yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku energi alternatif.
“Dan yang di luar dugaan bagi saya, setiap SPPG ini menggunakan kurang lebih 800 liter minyak goreng setiap bulan. Di mana 70 persennya akan berakhir menjadi minyak jelantah,” ujar Dadan.
Ia menjelaskan, setiap unit SPPG diperkirakan menghasilkan sekitar 500 hingga 590 liter minyak jelantah setiap bulan. Dengan jumlah SPPG yang kini mencapai sekitar 17.200 unit di Pulau Jawa, potensi minyak jelantah yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar 6 juta liter per bulan.
“Jadi kalau dikalikan 500 liter itu kurang lebih akan ada sekitar 6 juta liter per bulan,” katanya.
Menurut Dadan, pengelolaan minyak goreng di lingkungan SPPG juga dilakukan secara ketat demi menjaga kualitas makanan bagi penerima manfaat program MBG. Minyak goreng, kata dia, dibatasi penggunaannya dan tidak boleh dipakai berulang kali secara berlebihan.
“Perlu diketahui bahwa di BGN minyak tidak boleh sering digunakan. Jadi maksimal rata-rata tiga kali goreng lalu menjadi minyak jelantah,” ujarnya.
Selain pengelolaan limbah minyak jelantah, BGN juga mulai mendorong penggunaan energi alternatif di lingkungan operasional SPPG melalui pemanfaatan jaringan gas alam dan compressed natural gas (CNG) di sejumlah wilayah.
Langkah tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya membangun sistem operasional yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional.
Dadan menilai potensi jutaan liter minyak jelantah dari program MBG dapat menjadi fondasi awal pengembangan ekonomi sirkular berbasis energi hijau di Indonesia. Ia berharap kerja sama tersebut mampu menghadirkan nilai ekonomi baru dari limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
“Dan saya kira ini bisa menjadi langkah awal untuk program kerja sama kita sehingga minyak yang tadinya sampah menjadi bernilai, yang tadinya dibuang menjadi uang,” tutupnya.
Sundari
