Pemerintah Percepat Revitalisasi 3.084 Sekolah Terdampak Bencana di Sumatra
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa percepatan pemulihan fasilitas pendidikan merupakan bentuk perhatian serius pemerintah bersama DPR RI dalam penanganan pascabencana di Sumatra.
“Rapat koordinasi ini merupakan perhatian yang besar dari Bapak Presiden, dari pemerintah dan DPR RI terhadap bencana yang terjadi di Sumatra,” ujar Qodari dalam konferensi pers usai Rapat Koordinasi Penanganan Pascabencana Sumatra di DPR RI, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri yang juga Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, menjelaskan bahwa ribuan sekolah telah masuk dalam tahap penanganan, baik melalui rehabilitasi maupun pembangunan kembali.
Dari total 4.992 sekolah terdampak, sebanyak 3.084 sekolah telah mendapatkan penanganan revitalisasi melalui kerja sama lintas kementerian, khususnya Kemendikdasmen.
“Yang sudah dilakukan kerja sama oleh Kementerian Dikdasmen untuk renovasi dan rehabilitasi itu kurang lebih 3.084 sekolah,” kata Tito.
Meski demikian, masih terdapat lebih dari 1.000 sekolah yang belum masuk tahap revitalisasi. Tito menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti diabaikan, melainkan sedang dalam tahap perencanaan lanjutan untuk pembangunan dan rekonstruksi.
“Nah, yang sekitar seribuan lagi itu bukan berarti didiamkan. Kementerian Dikdasmen akan melanjutkan kerja sama untuk rencana pembangunannya,” ujarnya.
Tito juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran besar untuk mendukung percepatan pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak. Hingga saat ini, realisasi anggaran yang telah dicairkan mencapai sekitar Rp2 triliun, dengan tambahan sekitar Rp1,8 hingga Rp1,9 triliun yang masih dalam proses.
Selain kerusakan fasilitas pendidikan, pemerintah juga masih menangani sejumlah infrastruktur lain yang terdampak bencana, termasuk jembatan dan akses transportasi di beberapa daerah. Namun demikian, proses belajar mengajar tetap diupayakan berjalan melalui berbagai skema darurat.
“Dari sekitar 4.992 sekolah, ada yang masih belajar di tenda, terutama di daerah rawan yang direncanakan untuk relokasi,” kata Tito.
Ia menambahkan, sebagian sekolah saat ini juga masih menumpang di fasilitas pendidikan lain atau menggunakan ruang kelas darurat sembari menunggu pembangunan kembali.
Pemerintah saat ini tengah memfinalisasi skema relokasi bagi sekolah-sekolah yang berada di zona merah bencana sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keselamatan dan keberlanjutan layanan pendidikan di wilayah terdampak.
@Iyus
