Dana Stimulan Pascabencana Dorong Kebangkitan Ekonomi Warga Pidie Jaya
Di kawasan hunian sementara (huntara), sejumlah warga mulai mengembangkan usaha mikro sebagai langkah membangun kembali kemandirian ekonomi keluarga. Upaya tersebut menjadi bagian penting dari proses rehabilitasi sosial dan ekonomi setelah bencana yang sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Salah satu penerima manfaat, Milawati, warga Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, mengaku bantuan yang diterimanya digunakan untuk memperbaiki rumah yang terdampak banjir serta membersihkan endapan lumpur yang masih tersisa. Namun, proses pemulihan yang dijalaninya kembali menghadapi tantangan ketika banjir susulan melanda saat rumahnya masih dalam tahap pembersihan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk bangkit. Bersama keluarga, Milawati memanfaatkan kawasan huntara sebagai lokasi usaha kecil dengan menjual berbagai makanan ringan guna menambah penghasilan rumah tangga.
“Hasil penjualan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu perekonomian keluarga,” ujarnya saat ditemui di Kompleks Huntara Desa Meunasah Lhok, awal Juni 2026.
Milawati menjelaskan, bantuan dana stimulan sebesar Rp8 juta yang diterimanya, ditambah dukungan dana koperasi sebesar Rp200 ribu, memberikan ruang bagi keluarganya untuk mulai menata kembali kehidupan setelah bencana. Saat ini ia tinggal bersama suaminya di huntara, sementara sebagian anaknya bekerja di luar daerah dan seorang lainnya masih menempuh pendidikan di pesantren.
Semangat serupa juga ditunjukkan Salwati, warga Desa Meunasah Lhok lainnya. Sebagian dana stimulan yang diterimanya dimanfaatkan sebagai modal usaha kecil yang kini menjadi sumber penghasilan utama keluarga.
Beragam makanan dan minuman dijualnya untuk memenuhi kebutuhan warga di sekitar huntara. Kehadiran usaha tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memberikan layanan bagi sesama penyintas yang masih berada dalam tahap pemulihan.
“Jualan ini untuk memenuhi kebutuhan belanja sehari-hari,” kata Salwati.
Munculnya berbagai usaha mikro di lingkungan huntara mencerminkan bahwa program bantuan yang disalurkan melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera memiliki dampak lebih luas dari sekadar pemulihan fisik. Program tersebut turut membuka peluang bagi masyarakat untuk membangun kembali fondasi ekonomi keluarga secara mandiri.
Pemanfaatan bantuan sebagai modal usaha menjadi indikator bahwa proses rehabilitasi pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur dan hunian, tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan kesejahteraan warga serta mengurangi ketergantungan terhadap bantuan jangka panjang.
Kisah Milawati dan Salwati menggambarkan ketangguhan masyarakat Pidie Jaya dalam menghadapi dampak bencana. Dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi berbagai pihak, warga setempat perlahan bangkit, mengubah bantuan yang diterima menjadi modal untuk membangun masa depan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Zulkarnain
