DJALI-DJALI BINTANG KEDJORA: KUMPULAN CERITA SEJARAH DAN BUDAYA ~ BETAWI, BATAVIA, JAKARTA

Table of Contents
SIARAN PERS


DJALI-DJALI BINTANG KEDJORA: KUMPULAN CERITA SEJARAH DAN BUDAYA ~ BETAWI, BATAVIA, JAKARTA

Sejak tahun 2020, Pemprov DKI Jakarta tidak pernah ada di dalam 10 Besar Indeks Pemajuan Kebudayaan”. Menurut situs Kemenbud RI, DKI Jakarta yang berada di atas dalam hal apapun termasuk dana, kalah telak oleh Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, bahkan Maluku. Pencapaian IPK tertinggi setiap tahun malah diraih oleh Bali dan DI Yogyakarta. 

1.

DI tengah gemuruh gelak tawa, tepuk tangan, tepak beksi, dan aroma kerak telor, tiga hari menjelang HUT ke-499 Kota Jakarta, pada Jum’at/190626, di Aula Ali Sadikin, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, digelar peluncuran buku Djali-Djali Bintang Kedjora: Setangkle Cerita Sejarah & Budaya ~ Betawi, Batavia, Jakarta” karya Chairil Gibran Ramadhan, budayawan dan sastrawan asal Pondok Pinang, Jakarta Selatan.  

Tampil sebagai pembicara: Nuthayla Anwar (Penyair, Jurnalis, dan Wakil Rektor Al Ghuraaba) dan Idrus F. Shahab (Penulis dan Mantan Wartawan Senior TEMPO), dipandu Giyanto Subagio (Penyair dan Pegiat Komunitas Sastra Senen). Tampil memberi sambutan: Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab (Guru Besar Antropologi FISIP UI), Dr. Ninuk Kleden (Antropolog), Harry Simon (Produser film), Krishna Purwana (eks Sersan Prambors), Rusmantoro (Ketua Bidang Pembinaan Disbud DKI Jakarta), Dr. KH. Azis Khafia (Bamus Betawi), Hidayat Napis (Lembaga Kebudayaan Betawi), dan Lahyanto Nadi (wartawan). 

Acara difasilitasi DISPUSIP DKI Jakarta dan PDS HB Jassin. Adapun Museum Rekor Indonesia/MURI dan Pusat Studi Betawi/PSB UHAMKA yang logonya tercantum pada sampul depan, hanya bentuk balas jasa Betawi Institute: Jaya Suprana (pendiri MURI dan Jaya Suprana Institute), pada 12 Mei 2026, memfasilitasi pencanangan Mei Bulan Ismail Marzuki” yang digagas CGR, sebagai langkah awal mendorong Kemenbud RI untuk mendukung penetapan Mei sebagai Bulan Ismail Marzuki dan pembuatan biopic Ismail Marzuki berdasarkan skenario riset karya CGR; Prof. Dr. H. Edi Sukardi (Ketua PSB UHAMKA) memberi “PSB UHAMKA Award” kepada CGR selaku Sastrawan Betawi atas jejak selama 26 tahun dan merupakan award pertama dari PSB UHAMKA. 


2.

Meski tanpa dukungan dana dari Disbud DKI Jakarta atau lembaga kebetawian, acara berjalan sukses bahkan dihadiri kalangan akademisi, pers, sastra, sejarah, budaya, dan film. Hal ini sangat beralasan, karena Disbud DKI memang sangat minim dalam mengapresiasi dan memfasilitasi karya tulis sastra, sejarah dan budaya, dan tidak tertarik mengapresiasi hasil kerja pikiran dengan selalu memberi alasan “tidak ada dana” saat diketuk untuk menjadi berguna. Namun sangat mendukung acara keriaan dan hura-hura yang menghamburkan dana ratusan juta hingga milyaran, meski tidak meninggalkan jejak apapun kecuali sampah acara.

Pada Oktober 2025 misalnya, CGR menolak bukunya, “Kembang Kelapa: Setangkle Catatan Budaya ~ Betawi dari Batavia hingga Jakarta”, diterbitkan oleh Disbud DKI Jakarta, karena hanya untuk dicetak 30 eksemplar. Di sisi lain, kalangan mapan dari bidang seni, budaya, sejarah, politik, lembaga pendidikan, bisnis perumahan, jalan berbayar, juga serupa pemikirannya dengan Disbud DKI Jakarta.  Keberadaan hasil kerja intelektual memang berbeda dengan pemenangan seseorang terkait pemilihan pemimpin Ibukota yang memungkinkan dalam waktu satu jam berkumpulnya kalangan mapan dalam kesamaan ras dan kepentingan, terhimpun “dana hibah” hingga tiga milyar rupiah. Lembaga swasta yang diharapkan memiliki nalar-nurani, kepedulian dan kecerdasan budaya-budaya, kedekatan psikologis, terkait bahasan di dalam buku, tidak ada yang memberi tanggapan saat digugah menjadi pemberi dana hibah pencetakan atau melakukan apresiasi dalam bentuk pembelian hasil cetakan yang menampilkan nama di sampul dan dalam buku sebagai pemberi sambutan. 

Kita lebih senang menebang pohon dan menjadikannya sebagai kayu bakar untuk menerangi diri sendiri, ketimbang menanam pohon untuk dinikmati anak-cucu.”

3.

Djali-Djali Bintang Kedjora berisi 15 judul cerpen yang dimuat di Majalah Sastra Horison pada 2011-2015, plus satu judul pada edisi HUT ke-50 pada Juli 2016. Adapun dua judul lain diambil dari Si Murai dan Orang Gila (Kumpulan Cerpen Terbaik DKJ 2010) dan Jurnal Sastra (edisi perdana September 2012). Terkait prestasi inilah, CGR diminta Taufiq Ismail selaku pendiri Majalah Sastra Horison untuk menjalankan wajah baru pada 2018. Prestasi ini pula yang menjadikan CGR sebagai sastrawan dengan cerpen terbanyak di Majalah Sastra Horison selama lima tahun dan menjadi orang Betawi satu-satunya yang duduk sebagai redaktur di majalah tersebut. Di dalam bukunya, CGR menampilkan cerpen-cerpen yang ditulis dengan beragam eksplorasi gaya penulis, termasuk penggunaan semua ragam bahasa dan ragam ejaan yang pernah ada di negeri ini.  Tampak sekali CGR ingin melakukan terobosan yang berbeda dalam penulisan cerpen sehingga berbeda dengan para pendahulunya. Simak endorsement pada sampul belakang Djali-Djali Bintang Kedjora:

“Sangat langka penulis Indonesia berdarah Betawi yang memilih Dunia Betawi sebagai wilayah kreatif. Karena itu kemunculan CGR layak disambut penuh suka-cita. Melalui Djali-Djali Bintang Kedjora (dan Sebelas Colen di Malam Lebaran: Setangkle Cerita  Betawi, Masup Jakarta, 2008) CGR memberi perspektif baru tentang sastra Betawi dengan gaya penceritaan yang segar dan memikat. Sebuah buku yang layak dibaca dan disimak para pecinta dan pengamat sastra Indonesia. CGR pantas menjadi kebanggaan Betawi dan Indonesia.” (Ahmadun Yosi Herfanda, Redaktur Sastra Surat Kabar Harian REPUBLIKA)

“Sebagaimana Graham Green menemukan Malgudi dalam cerpen-cerpen R.K. Narayan, tentunya tidak berlebihan apabila saya mengatakan bahwa saya menemukan Betawi dalam cerpen-cerpen CGR. Sebagai sahabatnya, yang mengikuti proses kepenulisannya sejak awal, saya sangat berharap cerpen-cerpen CGR pada suatu saat nanti diterjemahkan ke dalam sebanyak-banyaknya bahasa asing.” (Dr. Cecep Syamsul Hari, Penyair & Redaktur Majalah Sastra HORISON)

“Karya sastra atau fiksi yang selalu mampu memberi arti bagi pembaca, utamanya dalam kaitan dengan latar kultural yang kental, biasanya adalah karya yang berdimensi dokumentatif dengan pemerian yang rinci. Cerpen-cerpen CGR dalam Djali-Djali Bintang Kedjora layak masuk kategori ini. Dalam lain arti, antologi karya fiksi yang menyemburat nuansa kebetawiannya ini dilahirkan dengan suatu pengemasan yang tidak sekadar mencerahkan melainkan juga mencerdaskan, lantaran pembaca senantiasa akan diingatkan atau diberi wawasan kelokalan yang kuat pada sisi kealamiannya.” (Dr. Ibnu Wahyudi, Pengamat Sastra & Pengajar di FIB-UI)

“CGR adalah spesies unik dan langka. Di tengah keragaman gaya dan tema, ia memilih sesuatu yang spesifik. Di tengah keriuhan sampah tulisan yang dangkal dan kurang bermutu, ia memilih kesabaran pada sesuatu yang dalam. Saat ini kita sungguh-sungguh memerlukan seorang penulis yang memiliki visi jelas, berkarakter, serta memiliki gaya khas. Hadirnya buku ini memberikan harapan dan kegembiraan yang sungguh-sungguh membuat kita bahagia.” (Joni Ariadinata, Cerpenis & Redaktur Majalah Sastra HORISON)

“Kekhasan CGR-setidak-tidaknya lewat cerpen-cerpennya yang cukup banyak saya baca-adalah kemampuannya ‘merekonstruksi’ latar waktu. Dia berhasil membangun latar tempo doeloe, melalui pilihan kata, juga acuan peristiwa, namun tetap terasa masa kini. Sehingga, sebagai pembaca, saya seperti diajak kembali hidup di Betawi tempo doeloe. Ini cerdas. (Yanusa Nugroho, Sastrawan Langganan KOMPAS) ***