Indonesia Catat Prestasi di Forum Ketenagakerjaan Dunia, Absen dari Daftar Kasus ILC Dua Tahun Berturut-turut

Table of Contents


Jenewa, Monitor Pos ~Indonesia kembali mencatatkan capaian positif di tingkat internasional dalam bidang ketenagakerjaan. Selama dua tahun berturut-turut, Indonesia tidak masuk dalam daftar kasus yang dibahas pada Konferensi Perburuhan Internasional (International Labour Conference/ILC), baik dalam kategori long list maupun short list of country cases.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, pencapaian tersebut menjadi indikator kuat atas komitmen Indonesia dalam menjalankan standar ketenagakerjaan internasional sekaligus menjaga hubungan industrial yang harmonis dan konstruktif.

“Capaian ini mencerminkan dialog sosial di Indonesia yang terus terjaga serta hubungan industrial yang harmonis dan konstruktif di antara seluruh pemangku kepentingan ketenagakerjaan,” ujar Yassierli saat menghadiri silaturahmi bersama Delegasi Tripartit Indonesia di sela-sela pelaksanaan ILC ke-114 di Jenewa, Selasa (9/6/2026).

Menurut Yassierli, keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi yang erat antara pemerintah, pekerja atau buruh, serta kalangan pengusaha dalam membangun mekanisme dialog sosial yang efektif. Ia menilai, hubungan industrial yang kondusif memiliki dampak nyata terhadap stabilitas dunia kerja dan iklim usaha nasional.

Dengan terbangunnya komunikasi yang sehat antara seluruh pihak, berbagai persoalan ketenagakerjaan dapat dibahas secara terbuka, memiliki jalur penyelesaian yang jelas, serta mendukung keberlanjutan dunia usaha.

Dalam kesempatan tersebut, Menaker juga menekankan pentingnya menjaga soliditas Delegasi Tripartit Indonesia yang terdiri atas unsur pemerintah, pekerja, dan pengusaha. Menurutnya, model tripartit merupakan wujud nyata komitmen Indonesia dalam menempatkan dialog sosial sebagai fondasi utama perumusan kebijakan ketenagakerjaan.

“Kebijakan ketenagakerjaan yang menyangkut kepentingan pekerja maupun dunia usaha perlu disusun melalui keterlibatan seluruh pihak agar lebih adil, realistis, dan implementatif,” katanya.

Yassierli menambahkan, pertemuan tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat semangat kemitraan tripartit sekaligus memperteguh komitmen bersama dalam membangun hubungan industrial yang harmonis, produktif, dan berkeadilan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada organisasi pekerja dan kalangan pengusaha yang dinilai berperan aktif dalam menjaga stabilitas hubungan industrial nasional, termasuk mendukung pelaksanaan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 yang berlangsung aman dan tertib.

Lebih lanjut, Yassierli menilai peran kemitraan tripartit semakin penting di tengah dinamika perubahan dunia kerja global. Berbagai perkembangan seperti pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pertumbuhan ekonomi platform, transisi menuju ekonomi hijau, hingga perubahan demografi menjadi tantangan baru dalam perlindungan tenaga kerja dan penciptaan pekerjaan yang layak.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Indonesia mendorong penguatan dialog sosial, peningkatan kompetensi tenaga kerja, perluasan perlindungan sosial, serta penerapan standar ketenagakerjaan yang adaptif dan selaras dengan norma internasional.

Sejumlah isu strategis yang menjadi pembahasan dalam ILC ke-114 juga mendapat perhatian Indonesia, antara lain standar kerja layak dalam ekonomi platform, kesetaraan gender di dunia kerja, penguatan dialog sosial dan tripartisme, serta evaluasi implementasi konvensi dan rekomendasi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).

Yassierli menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam ILC tidak hanya bertujuan memperjuangkan kepentingan nasional, tetapi juga memperkuat kontribusi Indonesia dalam membangun tata kelola ketenagakerjaan global yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan sosial.

“Seluruh Delegasi Indonesia perlu terus menjaga soliditas, memperkuat koordinasi, dan aktif membangun kolaborasi dengan negara-negara sahabat selama pelaksanaan konferensi ini,” ujar Yassierli.

Versi ini menggunakan gaya berita nasional yang lebih formal, ringkas, dan berorientasi pada nilai berita (news value), dengan struktur yang lazim digunakan media arus utama.

Red