Liburan Sekolah: Keselamatan Transportasi Jadi Kunci Utama Perjalanan Rombongan

Table of Contents


Jakarta, Monitor Pos - Musim liburan sekolah yang berlangsung setiap pertengahan tahun selalu menjadi momentum meningkatnya aktivitas wisata pelajar di berbagai daerah. Beragam agenda perjalanan, mulai dari studi wisata, kunjungan edukatif, hingga rekreasi bersama, mulai dipersiapkan oleh sekolah maupun kelompok masyarakat. Di tengah tingginya antusiasme tersebut, aspek keselamatan transportasi dinilai harus menjadi perhatian utama.

Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengingatkan bahwa pemilihan armada angkutan untuk perjalanan rombongan tidak boleh hanya mempertimbangkan faktor biaya, tetapi juga legalitas, keamanan, dan kenyamanan kendaraan.

Menurutnya, masyarakat perlu memastikan perusahaan otobus (PO) yang dipilih memiliki izin operasional yang sah serta armada yang memenuhi standar keselamatan. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui Sistem Informasi Perizinan Online Angkutan Darat dan Multimoda (SPIONAM) milik Direktorat Jenderal Perhubungan Darat untuk memastikan legalitas perusahaan dan kendaraan yang digunakan.

Selain itu, kendaraan yang akan digunakan wajib memiliki bukti lulus uji berkala atau KIR yang masih berlaku. Kelengkapan dokumen tersebut menjadi indikator bahwa armada telah memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan untuk mengangkut penumpang.

Djoko juga menyoroti pentingnya memperhatikan kondisi pengemudi. Ia menegaskan bahwa kelelahan menjadi salah satu faktor dominan penyebab kecelakaan lalu lintas, khususnya saat periode liburan ketika mobilitas masyarakat meningkat tajam.

Sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, waktu kerja pengemudi kendaraan umum dibatasi maksimal delapan jam per hari. Setelah mengemudi selama empat jam berturut-turut, pengemudi wajib beristirahat setidaknya 30 menit. Dalam kondisi tertentu, durasi kerja dapat diperpanjang hingga 12 jam dengan memperhitungkan waktu istirahat yang cukup.

"Untuk perjalanan jarak jauh yang memerlukan waktu tempuh lebih dari delapan jam, penyedia jasa transportasi sebaiknya menyediakan dua pengemudi agar keselamatan perjalanan tetap terjaga," ujarnya.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah pemahaman terhadap rute perjalanan. Pada musim liburan, kemacetan dan kondisi cuaca yang berubah-ubah dapat memengaruhi kelancaran perjalanan. Karena itu, pengemudi perlu memahami karakteristik jalur yang akan dilalui, terutama jika melewati kawasan pegunungan dengan tanjakan dan turunan curam yang membutuhkan sistem pengereman optimal.

Di sisi administrasi, Djoko mengingatkan agar penyewa kendaraan memastikan seluruh komponen biaya telah disepakati sejak awal. Rincian biaya tol, parkir, retribusi, konsumsi kru, hingga perlindungan asuransi harus tercantum secara jelas dalam kontrak kerja sama guna menghindari potensi sengketa di kemudian hari.

Ia juga menyarankan agar penyelenggara perjalanan memastikan adanya jaminan armada pengganti apabila terjadi gangguan teknis selama perjalanan. Perlindungan asuransi bagi seluruh peserta juga dinilai penting sebagai langkah mitigasi risiko.

Untuk mendukung kenyamanan dan keselamatan, pengaturan logistik rombongan perlu dilakukan secara cermat. Kapasitas bagasi harus disesuaikan dengan daya angkut kendaraan agar tidak terjadi kelebihan muatan yang dapat mengganggu stabilitas kendaraan. Pengaturan tempat duduk peserta, terutama bagi anak-anak dan lanjut usia, juga memudahkan pengawasan selama perjalanan.

Sebelum keberangkatan, pemeriksaan singkat terhadap kondisi fisik kendaraan perlu dilakukan bersama pengemudi. Kondisi ban, pintu darurat, palu pemecah kaca, hingga alat pemadam api ringan (APAR) harus dipastikan tersedia dan berfungsi dengan baik sebagai bagian dari prosedur keselamatan.

Djoko menegaskan bahwa keberhasilan perjalanan wisata tidak hanya ditentukan oleh destinasi yang dikunjungi, tetapi juga oleh kesiapan seluruh aspek transportasi yang digunakan. Dengan perencanaan yang matang dan kepatuhan terhadap standar keselamatan, kegiatan liburan sekolah diharapkan dapat berlangsung aman, nyaman, dan memberikan pengalaman positif bagi seluruh peserta.

Sulaeman