Mendagri Dorong Desa Adat Matabesi Jadi Warisan Budaya dan Destinasi Wisata Unggulan
Menurut Tito, Desa Adat Matabesi menawarkan keunikan yang tidak dimiliki daerah lain. Selain memiliki rumah-rumah adat yang diperkirakan telah berdiri selama ratusan tahun, kawasan tersebut juga masih dikelilingi pepohonan tua yang menciptakan suasana alami dan autentik.
Ia membandingkan Matabesi dengan Wae Rebo yang telah dikenal luas sebagai desa wisata budaya. Namun, menurutnya, Matabesi memiliki keunggulan tersendiri karena akses menuju lokasi jauh lebih mudah sehingga berpotensi menarik lebih banyak wisatawan.
"Kali ini saya melihat ada sesuatu yang berbeda di sini. Mirip dengan Wae Rebo, tetapi memiliki kekhasan dan sejarah sendiri. Aksesnya pun lebih mudah sehingga menjadi nilai tambah bagi pengembangan pariwisata," ujar Tito.
Ia menilai penggalian dan pendokumentasian sejarah Desa Adat Matabesi perlu terus dilakukan agar nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur dapat dipahami dan dilestarikan oleh generasi mendatang.
Dalam kesempatan itu, Tito juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Belu atas komitmennya menjaga keberadaan kawasan adat tersebut. Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan kepemimpinan yang memiliki kepedulian dan komitmen kuat terhadap warisan leluhur.
Selain meninjau kawasan desa adat, Mendagri mengunjungi Museum Fohorai yang saat ini tengah dibangun. Ia berharap museum tersebut dapat dikembangkan menjadi pusat edukasi budaya dengan menghadirkan koleksi yang lebih beragam, mulai dari tenun tradisional, sistem pertanian dan peternakan masyarakat adat, hingga berbagai tradisi serta proses pengolahan hasil alam seperti kemiri.
Tito juga memberikan penghormatan kepada para tetua adat dan masyarakat Matabesi yang dinilai tetap teguh mempertahankan tradisi di tengah arus modernisasi. Menurutnya, kemajuan pembangunan tidak harus menghapus nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Sebagai perbandingan, ia mengisahkan pengalamannya saat berkunjung ke Hawaii, di mana modernisasi telah menggeser keberadaan desa-desa adat sehingga budaya asli lebih banyak ditampilkan sebagai atraksi wisata dibandingkan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Karena itu, Tito mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian budaya. Menurutnya, desa adat seperti Matabesi harus dipertahankan sebagai warisan sejarah sekaligus aset wisata yang dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan jati diri masyarakat.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Emanuel Melkiades Laka Lena, Willybrodus Lay, Tri Tito Karnavian, jajaran pengurus TP PKK Provinsi NTT dan Kabupaten Belu, serta para kepala suku dan masyarakat adat Matabesi.
Bima Satria
