Betawi Academia Dan Kembang Sastra Betawi
Table of Contents
Betawi Academia dan Kembang Sastra Betawi
"Antologi ini mempunyai nilai lebih pada sisi historisitasnya sebab sebagian dimensi kebetawian yang pernah ada sepanjang kira-kira satu abad, terpampang di sini. Ini suatu komitmen dan langkah intelektual yang nyata."
(Dr. Ibnu Wahyudi, Pakar Bahasa dan Dosen FIB UI)
Pada Oktober 2011, Betawi Center Foundation/BCF mendukung Penerbit Padasan melahirkan buku perdana, _Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya ~ Sketsa, Puisi & Prosa ~ 1900-2000._ Sejak terbit hingga habisnya, buku diminati kalangan wartawan, seniman, budayawan, ahli bahasa, akademisi, sejarawan, hingga para peminat sastra Indonesia.
Buku ini berisi jalan pintas untuk mengetahui ragam ejaan dan ragam bahasa yang pernah ada di Indonesia, ragam pilihan tema penulisan, sejarah sosial di Batavia-Jakarta, dan tentunya mencatat para tokoh sastrawan berdarah Betawi.
Sesuai judulnya, buku ini berisi sketsa, puisi, dan prosa karya para penulis berdarah Betawi, diantaranya: M. Balfas, Firman Muntaco, SM. Ardan, N. Susy Aminah Aziz, Aba Mardani, dan lainnya. Selaku penggagas dan periset tunggal, Chairil Gibran Ramadhan/CGR, peneliti sejarah sosial asal Pondok Pinang, menyebut nama-nama tersebut sebagai "Sastrawan Betawi Zaman Rada Kemaren". CGR pula yang menggagas sebutan ini sebagai tema roadshow bertajuk _Ngobrol Saptu_ selama Januari 2016 di Perpustakaan Taman Fatahillah (Kota Tua Jakarta), Sanggar Betawi Firman Muntaco (Condet), dan Rumah Seni Asnur (Depok). Acara ini dijalankan Betawi Center Foundation atas dukungan para pemilik tempat, dan biaya swadaya para pecinta sejarah-budaya Betawi.
Pada Juni 2027, untuk menyambut hari jadi ke-500 Kota Jakarta, Penerbit Padasan berencana menerbitkan edisi kedua _Kembang Goyang_ dalam format baru. Dari hardcover berukuran 15x23 cm pada edisi pertama, menjadi hardcover berukuran 14x21cm. Untuk mewujudkannya, dukungan diharapkan datang dari Betawi Academia, forum silaturahim para guru besar, profesor, dan cendikiawan berdarah Betawi yang dideklarasikan pada 20 Mei 2025.
BA berawal dari inisiatif Betawi's Professor Club yang bertujuan memajukan masyarakat Betawi di bidang pendidikan, sosial, dan kebudayaan. Pada Juli 2025, BA meluncurkan buku berjudul "Betawi Academia" yang mendokumentasikan biografi 33 guru besar pelanjut cita-cita tokoh pejuang Betawi, M. Husni Thamrin. BA juga aktif bersinergi dengan berbagai institusi—seperti dalam acara di Institut STIAMI—dan Dewan Adat Majelis Kaum Betawi untuk memetakan arah kemajuan komunitas Betawi modern.
Nama-nama tokoh Betawi yang ada di dalam perkumpulan ini diantaranya: Prof. Dr. Dailami Firdaus (Rektor Universitas Islam As Syafi'i yah), Prof. Dr. Sylviana Murni (Rektor STIAMI), Prof. Dr. Bahrullah Akbar (Guru Besar IPDN), Prof. Dr. Edi Sukardi (Guru Besar UHAMKA dan Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor Raya), Prof. Dr. Agus Suradika (Rektor Universitas Tekhnik Muhammadiyah), Prof. Dr. dr. Hasbullah Thabrany (Guru Besar FKM-UI), Prof. Dr. Siti Nurbaya Bakar (Mantan Menhut 2014-2024), Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab (Guru Besar FISIP UI), Dr. Fauzi Bowo (Mantan Gubernur DKI Jakarta 2007-2012), Dr. Tadjuddin Noer (Dosen Universitas Nasional), dan lainnya.
Keputusan pun tentunya ada di tangan para anggota Betawi Academia, karena pencetakan membutuhkan pendanaan. Akankah mereka memberi dukungan serupa yang pernah diberikan oleh BCF, yang beranggotakan orang-orang biasa? Akankah mereka menjadi bagian dari gerakan intelektual Kaum Betawi yang tidak melulu berkutat pada urusan panggung hiburan, nandak, dan tawa, yang menghamburkan uang sangat banyak namun tidak menghasilkan jejak apapun kecuali sampah acara?
Maka _Betawi Academia_ sangat diharapkan mendukung lahirnya karya buku sebagai karya intelektual yang memiliki kelebihan menguasai ruang dan waktu, seperti diungkapkan dalam pepatah Latin kuno: _Scripta manent, verba volant." (Kata-kata yang diucapkan akan terbang, kata-kata yang tertulis akan tetap tinggal/abadi.). Betawi Academia jangan sekedar menjadi balairung di menara gading tempat bertenggernya para tokoh yang gelarnya membuat gemetar rakyat jelata.
Kita tunggu!