BNPB: Kekeringan dan Karhutla Dominasi Bencana Nasional, Banjir Aceh dan Angin Kencang Deli Serdang Jadi Sorotan

Table of Contents


Jakarta,Monitor Pos - 
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana hidrometeorologi kering masih mendominasi berbagai wilayah Indonesia dalam periode Kamis, 13 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB hingga Jumat, 14 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB. Namun di tengah musim kemarau, sejumlah daerah juga mengalami banjir dan cuaca ekstrem, menunjukkan kondisi cuaca yang semakin dinamis.

BNPB merangkum sejumlah kejadian bencana yang meliputi banjir, angin kencang, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kekeringan. Bencana paling menonjol berasal dari Aceh Barat Daya, Deli Serdang, dan beberapa wilayah di Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, serta Maluku.

Banjir Aceh Barat Daya

Banjir dilaporkan terjadi pada Kamis (13/08) di Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh. Wilayah terdampak meliputi:

  • Gampong Le Mirah dan Gampong Pante Rakyat, Kecamatan Babahrot
  • Gampong Tangan-Tangan Cut, Kecamatan Setia

Pendataan sementara menunjukkan sekitar 100 kepala keluarga dan 100 unit rumah terdampak. Hingga Jumat pagi, air masih menggenangi permukiman dan penanganan dilakukan oleh BPBD Kabupaten Aceh Barat Daya.

Angin Kencang Deli Serdang

Cuaca ekstrem berupa angin kencang terjadi pada Selasa (11/08) pukul 23.00 WIB di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Sebanyak 43 kepala keluarga atau 170 jiwa terdampak, dengan tiga jiwa mengungsi.

Kerusakan yang tercatat meliputi:

  • 5 rumah rusak berat
  • 13 rumah rusak sedang
  • 24 rumah rusak ringan

Desa terdampak tersebar di Kecamatan Pantai Labu, Batang Kuis, Beringin, dan Percut Sei Tuan. Warga yang rumahnya rusak berat dan sedang mengungsi di rumah kerabat maupun tetangga.

BNPB menilai kombinasi musim kemarau, peningkatan suhu, dan perubahan pola cuaca menyebabkan munculnya dua jenis ancaman sekaligus, yakni hidrometeorologi kering (kekeringan dan karhutla) serta hidrometeorologi basah (banjir dan cuaca ekstrem).

Kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan lintas sektor, terutama di wilayah yang mengalami penurunan debit air dan peningkatan risiko kebakaran lahan.

Karhutla Berhasil Dipadamkan

BNPB melaporkan sejumlah kejadian karhutla yang telah berhasil dikendalikan:

  • Lima Puluh Kota, Sumatera Barat: ±2 hektare di Nagari Solok Bio-Bio, Kecamatan Harau
  • Klaten, Jawa Tengah: ±18 hektare di Desa Jogoprayan, Kecamatan Gantiwarno
  • Sragen, Jawa Tengah: ±7,5 hektare di Desa Ngargosari dan Desa Ngantuk, Kecamatan Sumber Lawang
  • Paser, Kalimantan Timur: ±4,64 hektare di Kecamatan Tanah Grogot dan Pasir Belengkong
  • Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah: ±2 hektare di Desa Bonebae 2, Kecamatan Ulubongka
  • Seram Bagian Timur, Maluku: ±12 hektare di Negeri Bula Air, Kecamatan Bula

Untuk wilayah Seram Bagian Timur, pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat sejak 5 Agustus hingga 4 September 2026.

BNPB juga memantau dampak kekeringan yang cukup besar di sejumlah daerah:

Kabupaten Bogor, Jawa Barat

  • 28.281 kepala keluarga
  • 93.914 jiwa
  • Tersebar di 28 kecamatan dan 82 desa

BPBD Kabupaten Bogor mendistribusikan 54.000 liter air bersih ke beberapa desa, termasuk Hambalang, Batok, Sukajaya, dan Ciadeg.

Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

  • 7.230 kepala keluarga
  • 23.269 jiwa
  • Terdampak di 11 kecamatan

Distribusi air bersih mencapai 40.000 liter melalui empat ritase.

Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah

  • 5.639 kepala keluarga
  • 18.135 jiwa

BPBD telah menyalurkan 25.000 liter air bersih kepada 237 kepala keluarga.

Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah

  • 6.790 kepala keluarga
  • 17.349 jiwa

Sebanyak 30.000 liter air bersih telah disalurkan, namun kebutuhan tambahan masih diperlukan karena debit sumber air terus menurun.

Kabupaten Jembrana, Bali

Kekeringan berdampak pada 596 kepala keluarga di beberapa desa dan kelurahan. Total distribusi air bersih yang telah dilakukan BPBD mencapai 127.000 liter.

Situasi Karhutla Nasional

BNPB menegaskan bahwa Provinsi Riau dan Jambi masih menjadi perhatian utama penanganan karhutla.

  • Riau: luas lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 12 Agustus 2026 mencapai 15.676,72 hektare, dengan 46 titik panas terdeteksi satelit NOAA-20, SNPP, dan Terra/Aqua.
  • Jambi: luas lahan terbakar mencapai 540 hektare, dengan 37 titik panas terpantau dalam 24 jam terakhir dan tiga titik berstatus kepercayaan tinggi.

Sementara itu, kebakaran di TPSA Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, masih dalam penanganan tim gabungan. Area yang terbakar diperkirakan mencapai lima hektare dan ditangani oleh sekitar 200 personel.

Langkah Antisipasi BNPB

Menghadapi musim kemarau dan potensi El Niño, BNPB bersama pemerintah daerah memperkuat mitigasi melalui:

  • Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
  • Pembangunan sumur bor
  • Pipanisasi air bersih
  • Distribusi air bersih ke wilayah terdampak

Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga ketersediaan air, mengurangi risiko karhutla, serta menekan dampak terhadap masyarakat dan sektor pertanian.

Imbauan BNPB kepada Masyarakat

BNPB mengimbau masyarakat untuk:

  • meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, dan karhutla;
  • menggunakan air secara bijak;
  • tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar;
  • mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD, BMKG, dan instansi terkait.

BNPB menekankan bahwa kesiapsiagaan dan respons cepat dari pemerintah maupun masyarakat menjadi kunci untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana yang berpotensi meningkat selama musim kemarau 2026.

Ali Amran