Gempa M7,7 Guncang NTT, Korban Tewas Capai 71 Jiwa dan Hampir 60 Ribu Warga Mengungsi

Table of Contents


Manggarai,Monitor Pos - 
Penanganan darurat pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dikebut pemerintah. Hingga Rabu (19/8/2026) pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 71 jiwa, bertambah satu orang dari pembaruan sebelumnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut tambahan satu korban meninggal dunia berasal dari Kabupaten Nagekeo. Pemerintah bersama seluruh unsur penanganan bencana masih melakukan pendataan dan penanganan di sejumlah wilayah terdampak.

Di tengah proses evakuasi dan pemulihan, kebutuhan para pengungsi menjadi perhatian utama. Sebagian warga memilih bertahan di lokasi pengungsian karena rumah mereka mengalami kerusakan serta masih adanya kekhawatiran terhadap kemungkinan gempa susulan.

Berdasarkan pemutakhiran data BNPB per Rabu pukul 16.00 WIB, jumlah pengungsi mencapai 59.647 jiwa. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni sebanyak 20.333 jiwa.

Pemerintah daerah bersama BNPB terus memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak tetap terpenuhi. Bantuan yang menjadi prioritas mencakup makanan, air bersih, tenda, matras, selimut, layanan kesehatan, sanitasi, hingga kebutuhan kebersihan.

Perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.

Bantuan Hampir 400 Ton

Dari sisi distribusi logistik, bantuan terus dikirim melalui berbagai jalur untuk menjangkau masyarakat terdampak. Hingga Selasa (18/8) pukul 18.00 WIB, total bantuan yang telah dikirim selama periode 15–18 Agustus mencapai 398 ton.

Jalur darat masih menjadi pilihan utama untuk mendistribusikan bantuan dari titik-titik logistik menuju lokasi pengungsian. Namun, distribusi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan akses jalan di setiap wilayah.

Pemerintah juga mengoptimalkan jalur laut untuk memperluas jangkauan bantuan. Pada Selasa (18/8), KRI Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok, Kabupaten Manggarai.

Kapal tersebut membawa bantuan BNPB berupa sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, serta bantuan yang dihimpun dari berbagai unsur masyarakat.

Pengungsian Tersebar, Pemerintah Perkuat Pendataan

BNPB menekankan bahwa penanganan pengungsi tidak dilakukan hanya melalui satu lokasi terpusat. Kondisi di lapangan menunjukkan masyarakat terdampak tersebar di berbagai titik, termasuk lokasi pengungsian mandiri.

Karena itu, pendataan dan distribusi bantuan dilakukan secara bertahap agar kebutuhan warga di setiap lokasi dapat teridentifikasi dan dipenuhi secara tepat sasaran.

Pemerintah daerah juga didorong memperkuat posko dan satuan tugas penanganan darurat. Langkah tersebut diperlukan agar seluruh kebutuhan masyarakat dapat tercatat secara akurat dan respons penanganan dapat dilakukan dengan cepat.

Untuk mempercepat penanganan, pemerintah mengerahkan sumber daya nasional dengan melibatkan TNI, Polri, BNPB, pemerintah daerah, serta seluruh unsur pentaheliks penanggulangan bencana.

Mobilisasi personel, logistik, pelayanan kesehatan, hingga distribusi bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau terus dilakukan. Dukungan transportasi udara dan laut juga diperkuat dengan pemanfaatan pesawat serta kapal militer.

BNPB menegaskan, seluruh pengerahan sumber daya tersebut diarahkan pada satu tujuan utama, yakni mempercepat pelayanan dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak gempa.

Pemerintah memastikan dukungan penanganan akan terus diberikan mengikuti perkembangan situasi di lapangan. Pendampingan tidak hanya dilakukan selama masa tanggap darurat, tetapi akan berlanjut hingga masyarakat memasuki tahap pemulihan.

Di tengah besarnya dampak bencana, kolaborasi pemerintah, TNI/Polri, relawan, dunia usaha, masyarakat, dan seluruh unsur pentaheliks menjadi kunci untuk memastikan warga terdampak tidak menghadapi masa sulit ini sendirian.

Bima Satria