Refleksi HUT Ke-81 Mahkamah Agung: “Peradilan Luhur, Indonesia Makmur” Tegaskan Pentingnya Nurani dan Integritas Hakim

Table of Contents


Jakarta,Monitor Pos ~
 Peringatan Hari Ulang Tahun Mahkamah Agung Republik Indonesia ke-81 Tahun 2026 dengan tema “Peradilan Luhur, Indonesia Makmur” dimaknai sebagai momentum untuk menegaskan bahwa kemuliaan lembaga peradilan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sistem hukum dan kelengkapan regulasi, tetapi terutama oleh integritas dan kejernihan hati nurani insan peradilan yang menjalankannya.

Refleksi tersebut menempatkan hakim sebagai pusat moral penegakan hukum. Putusan pengadilan memang disusun berdasarkan fakta persidangan, alat bukti, ketentuan perundang-undangan, dan prinsip-prinsip hukum yang berlaku. Namun di balik konstruksi yuridis tersebut terdapat dimensi batin yang tidak terlihat, yakni pergulatan antara akal, hati nurani, pengalaman hidup, dan sumpah jabatan yang diemban seorang hakim.

Dalam perspektif ini, mengadili dipandang bukan sekadar aktivitas teknis menerapkan pasal demi pasal, melainkan perjalanan kemanusiaan yang sarat tanggung jawab moral dan spiritual. Seorang hakim tidak hanya mempertanggungjawabkan putusannya kepada hukum dan masyarakat, tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Gagasan tersebut mendapat peneguhan melalui refleksi atas karya dramawan Asrul Sani berjudul “Mahkamah, Sebuah Pengadilan Hati Nurani”, yang kembali dipandang relevan dengan upaya penguatan integritas peradilan modern.

Drama yang pernah ditayangkan TVRI Nasional pada tahun 1984 itu mengisahkan Mayor Syaiful Bahri, seorang pejuang kemerdekaan yang menjelang ajal dihantui keputusan masa lalunya mengeksekusi Kapten Anwar, sahabat sekaligus rival cintanya. Dalam pergulatan batin tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah hukuman dijatuhkan semata demi negara dan keadilan, atau tanpa disadari dipengaruhi oleh sentimen pribadi dan kepentingan tersembunyi.

Puncak refleksi drama itu terjadi ketika Syaiful mendapati dirinya sendiri duduk sebagai hakim tunggal yang mengadili dirinya sendiri. Pesan filosofis yang disampaikan Asrul Sani menegaskan bahwa tidak ada manusia yang mampu mengelabui hati nuraninya sendiri.

Pesan tersebut dinilai memiliki makna mendalam bagi dunia peradilan Indonesia. Setiap amar putusan mungkin selesai dibacakan, setiap perkara mungkin telah berkekuatan hukum tetap, tetapi pertanyaan moral mengenai kemurnian motif dan keadilan substantif akan terus hidup dalam batin seorang hakim.

Tema HUT ke-81 Mahkamah Agung juga dinilai semakin relevan di tengah transformasi peradilan modern, termasuk digitalisasi layanan, penguatan pengawasan, pembangunan zona integritas, dan peningkatan transparansi peradilan. Berbagai pembaruan tersebut penting, namun teknologi dan sistem hanyalah instrumen. Fondasi utama tetap terletak pada manusia yang menjalankan kekuasaan kehakiman.

Karena itu, refleksi HUT Mahkamah Agung tahun ini dipandang sebagai ajakan untuk memperbarui komitmen moral seluruh aparatur peradilan. Integritas tidak cukup dibangun melalui pengawasan eksternal, tetapi harus bertumpu pada pengawasan internal berupa suara hati yang terus mengingatkan ketika seseorang mulai menyimpang dari nilai-nilai keadilan.

Dalam konteks tersebut, “Peradilan Luhur” tidak hanya berarti lembaga peradilan yang kuat secara kelembagaan, melainkan juga peradilan yang dijalankan oleh hakim dan aparatur yang memiliki kejujuran batin, ketulusan mengabdi, dan keberanian mempertanggungjawabkan setiap keputusan secara moral.

Refleksi ini menegaskan bahwa hakim yang paling sulit dihadapi bukanlah majelis di ruang sidang, bukan pula pengawasan lembaga, media, atau masyarakat, melainkan hati nurani sendiri. Hati nurani dipandang sebagai hakim yang paling jujur karena tidak dapat disuap, tidak mengenal kompromi, dan mengetahui motif terdalam dari setiap keputusan yang pernah diambil.

Melalui semangat “Peradilan Luhur, Indonesia Makmur”, Mahkamah Agung diharapkan terus memperkuat perannya sebagai benteng terakhir pencari keadilan, sekaligus membangun peradilan yang tidak hanya agung dalam struktur dan kewenangan, tetapi juga agung dalam nurani setiap insan yang mengabdinya.

@Iyus