5 (Lima) Buku Untuk 5 (Lima) Abad Jakarta

Table of Contents

Lima (5) Buku untuk Lima (5) Abad Jakarta

Pada 22 Juni 2027, Kampung Betawi Kota Jakarta berumur 500 tahun. Pemprov DKI Jakarta pun sejak tahun lalu sudah menggaungkan program Lima Abad Jakarta lengkap dengan logonya. Sejumlah acara pesta-pora, hiburan, keriaan, yang menghabiskan dan ratusan milyar, akan digelar. Pemprov DKI Jakarta juga akan menerbitkan buku-buku bertema Betawi, Batavia, Jakarta. Ironisnya, program tersebut banyak yang jatuh kepada pihak-pihak yang hanya karena memiliki kesamaan partai politika, relasi dan koneksi, meski awam pada penulisan seputar Betawi, Batavia, Jakarta.

Chairil Gibran Ramadhan, sastrawan dan budayawan Betawi yang pada 12 November 2025 mendapatkan anugerah PSB UHAMKA Award dari Pusat Studi Betawi Universitas HAMKA atas dedikasinya selama 26 tahun membawa karya sastra bernuansa Betawi, Batavia, Jakarta ke tingkat nasional bahkan Negeri Belanda, malah tidak dilibatkan sama sekali dalam proyek besar ini. Hal ini tidak mengherankan, karena hingga saat ini, Pemprov DKI Jakarta juga tidak pernah memberikan Anugerah Budaya sebagai Sastrawan dan Budayawan Betawi kepadanya.

Namun bukanlah CGR bila mudah tumbang hanya karena penjegalan. Maka ia terus bergerak untuk Tanah Betawi lewat karya sastra dan gerakan-gerakan literasi.

Bila semua berjalan lancar, setidaknya, Penerbit Padasan yang didirikannya pada 27 Oktober 2011, atas dukungan Betawi Institute dan Poestaka Betawi, akan menerbitkan lima judul buku bertema Betawi, Batavia, Jakarta, untuk menyambut Lima Abad Jakarta: "Seribu Tokoh Betawi: Jakarta dan Sekenanya" (ISBN: 978-602-17963-8-2), Hikayat Pesastra: Jakarta dan Sekenanya (ISBN: 978-602-17963-7-5), "Bang Jali Kondangan: Setangkle Sketsa Humor Betawi" karya Aba Mardjani (ISBN: 978-602-19280-4-2), "Keadjaiban di Pasar Senen: Sekumpulan Ceritera di Jakarta 1950-1970" karya Misbach Yusa Biran (ISBN: 978-602-1244-01-2), "Dajoeng Sampan Dibawah Boelan" karya Chairil Gibran Ramadhan/CGR sebagai buku ketujuh dari seri "Setangkle Puisi Sejarah dan Budaya: Betawi, Batavia, Jakarta".


Meski memuat logo Lima Abad Jakarta pada sampul, namun seperti diungkapkan di atas, buku-buku tersebut tidak terbit atas dukungan dana dari Pemprov DKI Jakarta sebagai bagian rangkaian proyek besar penerbitan buku-buku seputar Betawi, Batavia, Jakarta dalam rangka peringatan Lima Abad Jakarta. Adapun logo dicantumkan hanya penanda waktu terbit. Bukan imbalan atas dana yang tidak diberikan.

Lantas dari mana pembiayaan pencetakan buku-buku tersebut? CGR pun menjawab tegas: "Dari kantong pribadi. Karena sangat tidak mungkin dari tokoh-tokoh Betawi, lembaga-lembaga berembel Betawi, tokoh nasional, dan lembaga pemerintah."

Orang Betawi satu-satunya yang pernah menjadi redaktur di Majalah Sastra Horison ini juga menambahkan bahwa kesulitan mendapatkan donatur cetak juga dialaminya saat mengetuk kalangan hati kalangan Cina berkantong tebal dari kalangan bisnis rokok, jamu, makanan, perumahan, hingga pendidikan, untuk buku bertema Cina Betawi dan Tionghoa di Batavia: "Tabiat mereka sama persis dengan orang Betawi yang sangat gemar menghamburkan uang untuk pesta-pora, namun sangat sulit untuk literasi." CGR menutup kalimatnya dengan mengutip perkataan seorang abang ojek online: "Kembalian 1500 saja diminta, gimana mau jadi donatur cetak buku." ***