BPBD Jambi Perkuat Satgas Darat dan Water Bombing, Karhutla Capai 1.879 Hektare Jelang Puncak Kemarau

Table of Contents


Jambi,Monitor Pos - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi memperkuat strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengoptimalkan satuan tugas (satgas) darat, pengerahan helikopter water bombing, hingga penambahan personel gabungan. Langkah ini dilakukan untuk menekan penyebaran api di lahan gambut menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada September 2026.

Penguatan operasi dilakukan di sejumlah wilayah rawan karhutla, termasuk Kabupaten Muaro Jambi yang menjadi salah satu titik fokus penanganan. Pemerintah juga mengintensifkan patroli, pendinginan, pembuatan sekat bakar, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mengantisipasi meluasnya kebakaran.

Satgas Darat Diperkuat, Sekat Bakar Jadi Strategi Utama

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan penanganan karhutla kini difokuskan pada penguatan satgas darat yang berjumlah 5.984 personel. Sebanyak 20 personel tambahan dari Basarnas, Brimob, dan Batalyon Infanteri 142 resmi diterjunkan untuk memperkuat proses pemadaman dan pendinginan di lapangan.

Menurut Bachyuni, personel tambahan diprioritaskan untuk melakukan pendinginan di area yang sebelumnya telah dipadamkan agar api tidak kembali muncul. Sementara itu, alat berat berupa ekskavator yang mendapat dukungan dari BNPB dimanfaatkan untuk membuat sekat bakar sebagai penghalang penyebaran api, khususnya di kawasan lahan gambut.

“Penambahan personel dan alat berat ini kita arahkan untuk memperkuat pendinginan serta mencegah api meluas melalui pembuatan sekat bakar,” ujar Bachyuni.

Selain sekat bakar, tim gabungan juga mulai membangun kanal-kanal air yang akan menjadi sumber air untuk mendukung proses pemadaman maupun pendinginan di lokasi yang masih berpotensi terbakar.

Karhutla di Jambi Meluas, 11,5 Hektare Masih Dalam Penanganan

Berdasarkan data BNPB hingga Kamis, 3 September 2026, luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi mencapai 1.879,31 hektare. Pada hari yang sama, luas area terbakar diperkirakan bertambah 47,5 hektare.

Dari luasan tersebut, 37 hektare berhasil dipadamkan, sementara 11,5 hektare masih dalam proses penanganan melalui operasi darat, water bombing, dan operasi gabungan.

Bachyuni menjelaskan kondisi lahan gambut menjadi tantangan terbesar dalam proses pemadaman. Di beberapa lokasi, alat berat tidak dapat menjangkau area sehingga pembuatan sekat bakar tidak bisa dilakukan secara maksimal.

“Ada beberapa lokasi yang tidak bisa disekat karena alat berat tidak dapat masuk. Kondisi gambut juga memungkinkan api terus menjalar di bawah permukaan,” jelasnya.

Ratusan Titik Panas Masih Terpantau

Pemantauan terbaru menunjukkan terdapat 182 titik panas (hot spot) di wilayah Jambi. Dari jumlah tersebut, 34 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, sedangkan 148 titik berada pada kategori kepercayaan rendah.

Sementara itu, dari estimasi 20 titik api (fire spot) yang terdeteksi pada Kamis (3/9), sebanyak tiga titik merupakan titik lama yang masih menjalani proses pemadaman.

Keberhasilan operasi darat juga cukup signifikan. Dari total 37 hektare lahan yang berhasil dipadamkan, 31 hektare ditangani satgas darat, sedangkan enam hektare lainnya dipadamkan melalui operasi water bombing.

Desa Air Merah Jadi Fokus Penanganan

Salah satu lokasi prioritas penanganan berada di Desa Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi. Tim Pos 27 satgas darat berhasil memadamkan kebakaran di area seluas tiga hektare.

Usai pemadaman, personel langsung melakukan pendinginan secara intensif untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa. Langkah ini dinilai penting mengingat karakteristik lahan gambut yang dapat menyimpan api di bawah permukaan tanah.

Operasi Modifikasi Cuaca Terus Dioptimalkan

Selain operasi darat dan udara, pemerintah juga mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari strategi penanganan karhutla.

OMC telah berlangsung pada 26 Agustus hingga 2 September 2026 dengan total delapan sortie penerbangan selama 15 jam 32 menit. Dalam operasi tersebut, sebanyak 8.000 kilogram natrium klorida (NaCl) disemai untuk memicu pertumbuhan awan hujan.

Namun, berdasarkan pemantauan BMKG, hingga 10 September 2026 diperkirakan belum terjadi pertumbuhan awan yang memadai. Kondisi cuaca kering ini berpotensi membatasi pelaksanaan OMC sehingga satgas diminta mengoptimalkan patroli dan pemantauan cuaca di lapangan.

BNPB Berikan Dukungan dan Uang Semangat untuk Petugas

Sebagai bentuk dukungan terhadap ribuan personel yang bertugas di lapangan, BNPB menyiapkan bantuan keuangan berupa uang semangat bagi petugas gabungan yang terlibat dalam penanganan karhutla.

Dukungan tersebut disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Jambi pada Rabu, 2 September 2026. Bantuan diberikan kepada personel TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, relawan, hingga masyarakat yang ikut membantu proses pemadaman.

Menurut Suharyanto, dukungan itu diharapkan dapat meningkatkan motivasi sekaligus memperkuat kinerja satgas darat dalam mengendalikan kebakaran dan mencegah munculnya kembali titik api.

Ketua Tim Pos 27 BPBD Provinsi Jambi, Ahmadi (55), mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan kepada para petugas.

“Bantuan ini menjadi penyemangat bagi kami di lapangan. Namun yang utama, kami tetap menjalankan tugas dengan ikhlas sebagai bentuk pengabdian untuk melindungi masyarakat dan lingkungan dari ancaman karhutla,” kata Ahmadi.

Husnul Khotimah