Irman Gusman Dorong MDMC 4.0, Perkuat Jejaring Kesiapsiagaan Bencana Muhammadiyah Sebelum Krisis Terjadi

Table of Contents


Sleman,Monitor Pos - Senator RI asal Sumatera Barat, Irman Gusman, mendorong Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memperkuat kesiapsiagaan bencana melalui pengembangan konsep MDMC 4.0 atau Integrated Humanitarian and Resilience Network. Gagasan tersebut menitikberatkan pada kesiapan jejaring relawan, logistik, layanan kesehatan, hingga pembiayaan yang dapat digerakkan sebelum bencana terjadi, sehingga penanganan krisis berlangsung lebih cepat dan terkoordinasi.

Gagasan itu disampaikan Irman saat menjadi keynote speaker dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Resiliensi Bencana/Muhammadiyah Disaster Management Center (LRB-MDMC) PP Muhammadiyah di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026). Rakernas diikuti ratusan peserta yang terdiri atas pimpinan LRB-MDMC PP Muhammadiyah serta pengurus MDMC wilayah dari seluruh Indonesia.

Irman yang juga menjabat Ketua Dewan Penasehat MDMC Sumatera Barat menilai posisi MDMC semakin strategis karena berada di bawah Muhammadiyah, organisasi yang memiliki jaringan luas, akar kuat di masyarakat, dan tingkat kepercayaan publik yang tinggi. Menurutnya, modal sosial tersebut harus diubah menjadi kapasitas nyata dalam melindungi masyarakat ketika bencana terjadi.

“Kepercayaan publik adalah modal sosial. Namun kepercayaan itu harus diubah menjadi kapasitas, kemampuan menghubungkan sumber daya, mengambil keputusan, dan menggerakkan bantuan secara cepat ketika masyarakat membutuhkan,” ujar Irman.

Indonesia Masih Berisiko Tinggi Bencana

Irman menegaskan, penguatan kesiapsiagaan menjadi kebutuhan mendesak mengingat World Risk Index 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dari 193 negara dengan skor 39,80. Indeks tersebut mengukur tingkat risiko berdasarkan paparan bahaya, kerentanan masyarakat, serta kemampuan menghadapi dan beradaptasi terhadap bencana.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan kapasitas masyarakat dan jejaring kemanusiaan merupakan bagian penting dalam menurunkan risiko bencana di Indonesia.

MDMC 4.0 Perkuat Jejaring Kemanusiaan Terintegrasi

Dalam paparannya, Irman memperkenalkan konsep MDMC 4.0 sebagai gagasan pengembangan jejaring kemanusiaan dan ketangguhan yang terintegrasi. Konsep tersebut bukan nomenklatur resmi organisasi, melainkan arah penguatan yang melanjutkan kerja MDMC dalam tanggap darurat, manajemen bencana, dan pembangunan ketangguhan masyarakat.

Melalui konsep itu, MDMC diharapkan menjadi penghubung antara kekuatan Muhammadiyah dengan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, media, dan komunitas masyarakat. Jaringan sekolah, rumah sakit, masjid, hingga relawan Muhammadiyah di berbagai daerah diproyeksikan saling menopang mulai dari tahap kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan layanan kesehatan dan mata pencaharian warga.

Irman juga menekankan pentingnya trigger mechanism, yakni mekanisme pemicu tindakan yang disepakati sebelum krisis terjadi. Menurutnya, protokol tersebut harus memuat data yang menjadi dasar keputusan, pihak yang berwenang mengaktifkan jejaring, pembagian peran, pengerahan sumber daya, hingga mekanisme pertanggungjawaban kepada publik.

“Yang penting bukan hanya siapa yang bergerak, tetapi bagaimana semua kekuatan yang ada bisa segera bergerak ketika dibutuhkan. Itulah pentingnya trigger mechanism,” tegasnya.

Mitigasi Dinilai Sebagai Investasi Pembangunan

Selain kesiapsiagaan, Irman mengingatkan pentingnya menempatkan mitigasi bencana sebagai investasi pembangunan jangka panjang. Mengacu pada kajian Bank Dunia dan Global Facility for Disaster Reduction and Recovery (GFDRR), setiap investasi untuk infrastruktur tangguh di negara berpendapatan rendah dan menengah diperkirakan mampu menghasilkan manfaat sekitar empat dolar untuk setiap satu dolar yang diinvestasikan.

Ia menilai investasi pada mitigasi tidak hanya mengurangi kerusakan akibat bencana, tetapi juga menjaga keberlanjutan layanan publik dan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Mitigasi dan kesiapsiagaan adalah investasi untuk melindungi kehidupan, menjaga layanan publik, dan mempertahankan keberlanjutan ekonomi. Setiap rupiah yang dikeluarkan sebelum bencana harus diarahkan untuk mengurangi kerugian dan mempercepat pemulihan,” kata Irman.

Rakernas Perkuat Kolaborasi Nasional Penanggulangan Bencana

Rakernas LRB-MDMC PP Muhammadiyah dibuka pada Jumat (11/9/2026) dengan sambutan Ketua LRB-MDMC PP Muhammadiyah Budi Setiawan, pidato Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, serta amanat sekaligus pembukaan resmi oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Dalam kesempatan tersebut, Menko PMK Pratikno mengapresiasi jaringan amal usaha Muhammadiyah yang dinilai memiliki kontribusi penting dalam keselamatan masyarakat melalui sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan klinik yang mendukung penanganan bencana di berbagai daerah.

Rangkaian Rakernas berlangsung selama tiga hari dan berakhir pada Minggu (13/9/2026). Kegiatan ditutup oleh mantan Wakil Presiden RI yang juga Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla.

Irman berharap Rakernas menjadi momentum memperkuat standar kerja, pelatihan berkala, penguatan sumber daya, dan indikator keberhasilan penanggulangan bencana di lingkungan Muhammadiyah.

“Bencana memang tidak selalu bisa kita cegah, tetapi dampaknya bisa kita kurangi. Karena itu, kita harus memperkuat kesiapsiagaan, memperluas jejaring, dan memastikan setiap kekuatan dapat bergerak bersama ketika kemanusiaan membutuhkan,” tutup Irman.

Sambara