Poestaka Betawi Kembali Hadir Menyelamatkan Literasi Betawi

Table of Contents

Poestaka Betawi Kembali Hadir Menyelamatkan Literasi Betawi

Bertepatan dengan Hari Radio, HUT ke-81 Radio Republik Indonesia, di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, pada Jum'at, 11 September 2026, dinyatakan berdiri Poestaka Betawi oleh sastrawan dan budayawan Betawi asal Pondok Pinang yang juga alumni IISIP Jakarta, Chairil Gibran Ramadhan/CGR.

Sebelumnya, Rachmad Sadeli (2 Mei 1974 - 21 Juli 2021), wartawan grup Kompas Gramedia untuk Tabloid Otomotif yang juga seorang Betawi, mendirikan Pustaka Betawi pada tahun 2015. Namun sepeninggalnya Mamat, panggilan Rachmad Sadeli, istrinya, Ifo Indriati, dikarena ketidaksanggupan mengelola yang membutuhkan perhatian penuh, kemudian menyerahkan buku-buku koleksi Pustaka Betawi kepada LKB/Lembaga Kebudayaan Betawi, "Untuk mendapat perhatian dan perlakuan pengurusan yang memadai, dan supaya lebih bermanfaat lagi untuk orang banyak dan dikelola kembali oleh pihak yang berkompeten. Cita-cita almarhum memang ingin punya koleksi buku-buku budaya khusus Betawi."

Menurut akademisi Betawi, Roni Adi, dikarena ketiadaan tempat yang refresentatif di kantor LKB, buku-buku tersebut kemudian diserahkan oleh LKB kepada pengelola Museum Betawi di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan. Pengalihan ini, sesungguhnya menimbulkan kekecewaan Iwan Henry Wardhana, Kadisbud DKI Jakarta kala itu. Karena ternyata di Setu Babakan, buku-buku tersebut kembali mengalami nasib serupa dan akhirnya hilang satu per satu, tanpa diketahui siapa pelakunya.

Atas dasar kecintaannya pada literasi, penyelamatan buku-buku bertema Betawi, Batavia, Jakarta, dan tentunya etnisnya, Chairil Gibran Ramadhan, sastrawan Betawi satu-satunya yang pernah menjabat sebagai anggota redaksi Majalah Sastra Horison, dan dilupakan namanya sebagai penggagas lahirnya Duit Betawi (uang nasional dalam nuansa Betawi) yang dia perjuangkan selama 2000-2016, akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan langkah Mamat yang terhenti usai kepergiannya akibat badai Covid 19.

Demi menjaga etika, atas bantuan Fifi Firman Muntaco, anak tertua maestro sketsa humor Betawi, Firman Muntaco (5 Mei 1935 – 10 Januari 1993), CGR pun meminta izin isteri Mamat untuk menggunakan nama ustaka Betawi namun dalam ejaan lama. Itikad CGR mendapat tanggapan positif yang melegakan. "Alhamdulillah ada yang meneruskan Pustaka Betawi almarhum suami saya. InsyaALLAH berkah untuk Bang CGR dan semua penggerak Poestaka Betawi." ungkap Ifo di kediamannya, Cilandak, Jakarta Selatan.

Dari mana sumber buku-buku Pusaka Betawi yang dikelola Mamat? Sama seperti CGR, buku-buku itu berawal dari koleksi pribadi, ditambah sumbangan dari para sahabat yang memiliki perhatian pada literasi bertema Betawi, Batavia, Jakarta. CGR sendiri memiliki alasan sederhana atas langkahnya: "Manusia hidup harus ada guna bagi orang lain, tidak hanya asyik dengan diri sendiri dan keluarga. ***