Gerakan Bela Betawi Liwat Literasi

Table of Contents

SIARAN PERS
Betawi Institute Canangkan "Bela Betawi Liwat Literasi" untuk Sambut Bulan Bahasa Oktober 2026

Oleh Tim Redaksi

Meski kuat dalam Tradisi Lisan, Kaum Betawi juga memiliki tokoh-tokoh Tradisi Tulisan. Ahmadun Yosi Herfanda, wartawan dan sastrawan, dalam endorsement “Kembang Goyang” (Penerbit Padasan, 2011), menulis: “Di tengah kesunyian, sastra yang diusung para penulis berdarah Betawi atau Peranakan-Betawi ini diam-diam menyeruak di dalam kancah nasional diiringi kesahajaan aroma tanah kelahiran mereka. Nama-nama dari masa lampau seperti Sapirin bin Usman al-Fadli, Muhammad Bakir, Ahmad Beramka, Abdullah bin Muhammad al-Misri, Ahmad Insab, Ahmed Mujarrab, kemudian Oom Piet, Tio Ie Soei, Kwee Kek Beng, Muhammad Balfas, SM. Ardan, Firman Muntaco, N. Susy Aminah Aziz, hingga generasi terkini seperti Aba Mardjani, Zeffry J. Alkatiri, dan Chairil Gibran Ramadhan, harus dicatat dalam sejarah sastra Indonesia khususnya kesusastraan Betawi. Dan buku ini adalah bagian dari sejarah itu.”

Namun perkembangan zaman menjadikan etnis Betawi dikenal hanya kuat pada sisi Tradisi Lisan: Teater tradisional, pantun pada palang pintu, lagu gambang kromong, serta seni-budaya yang memanjakan mata sebagai hiburan pada acara-acara keriaan. Adapun Tradisi Tulisan, hadir secara senyap melalui pejuang-pejuang tunggal, tanpa dukungan pemerintah dan lembaga-lembaga kebetawian. Padahal dalam jargonnya menyebut karya tulisan sebagai hal yang diperjuangkan. Tiidak mengherankan jika Kaum Betawi dikenal sebagai etnis yang hanya berkutat pada tari, silat, lawak, dan kuliner. Lebih celaka lagi, dikenal sebagai suku yang mengandalkan otot.

Atas penggambaran inilah, Betawi Institute, dalam rangka memperingati Bulan Bahasa pada Oktober 2026 mencanangkan Gerakan Bela Betawi Liwat Literasi. Bukti kongkrit dari gerakan ini adalah pada 2027 dalam rangka peringatan "Lima Abad Jakarta” akan memfasilitasi terbitnya lima buku bertema sejarah, sastra, dan budaya Betawi, Batavia, Jakarta. Langkah nyata membela Literasi Betawi ini karena selama ini Kaum Betawi ditakar jauh dari dunia literasi.

“Bela Betawi juga artinya membela harkat dan martabat Betawi melalui literasi. Ini terkait pendokumentasian dalam bentuk buku. Literasi jangan diartikan dangkal sebagai kegiatan yang hany sebatas baca puisi di panggung keriaan. Kenali sejarah dan budaya Betawi, Batavia, Jakarta melalui tulisan. Pendokumentasinya dalam bentuk buku adalah hal yang sangat penting. Buku menguasai ruang dan waktu: _Scripta manent, verba volant._ Insya Allah yang kami lakukan ini berguna bagi Betawi dan Indonesia.” ujar Chairil Gibran Ramadhan/CGR, pendiri Betawi Institute dan Poestaka Betawi.

Menurutnya, kelima judul buku yang diterbitkan itu nantinya diharapkan menjadi koleksi kampus, instansi pemerintah, perkumpulan baca, hingga kedutaan besar di wilayah Tanah Betawi: "Seribu Tokoh Betawi: Jakarta dan Sekenanya" (ISBN: 978-602-17963-8-2), "Hikayat Pesastra: Jakarta dan Sekenanya" (ISBN: 978-602-17963-7-5), "Bang Jali Kondangan: Setangkle Sketsa Humor Betawi" karya Aba Mardjani (ISBN: 978-602-19280-4- 2), "Keadjaiban di Pasar Senen: Sekumpulan Ceritera di Jakarta 1950-1960" karya Misbach Yusa Biran (ISBN: 978-602-1244-01-2), "Dajoeng Sampan Dibawah Boelan" karya Chairil Gibran Ramadhan.

Diakui CGR, selama 500 tahun perjalanan Kota Jakarta, belum pernah ada satu pun tokoh Betawi yang menyatakan diri dan memiliki perhatian terhadap sejarah dan budaya Betawi-Jakarta melalui gerakan literasi dan membawa image baru atas Betawi menjadi intelek dan elegan. "Kebanyakan dari mereka tujuannya adalah menjadi ketua ormas dan terjun ke politik. Tidak ada yang concern dan menjadi fasilitator gerakan literasi." tambah CGR. Padahal dia berharap, ada tokoh Betawi yang bergerak seperti Richard Oh sang pelopor Khatulistiwa Literary Award, atau seperti Denny JA yang memfasilitasi penerbitan buku, penyelenggaraan sayembara menulis, hingga memberi penghargaan bagi para penulis. Harapan ini hanya khayalan belaka karena para orang kaya Betawi dan para tokoh politik, meski mengaku memiliki perhatian terhadap budaya Betawi namun nyatanya tidak ada yang menanggapi ajakan menjalankan gerakan *Bela Betawi Liwat Literasi*. Diantara nama yang dihubungi namun tak pernah memberi tanggapan adalah Riano Purwonegoro (Nasdem, juga Ketum Bamus Betawi), Nuroji tokoh Betawi Depok dan Setyoko (Gerindra), Firman Subagio (Golkar), Fahira Idris selaku anggota DPD RI dari DKI Jakarta, hingga beberapa anggota Betawi Academia, sebuah perkumpulan para guru besar dan dosen senior berdarah Betawi. Sedangkan Rano Karno selalu Wagub DKI Jakarta sangat sulit dicolek karena Beno asistennya "sangat pendiam". ***