Gibran Out, Tak Ada Lagi Penghormatan Bagi Pengkhianat Konstitusi

Table of Contents

GIBRAN OUT, TAK ADA LAGI KEHORMATAN BAGI PENIPU KONSTITUSI

by M Rizal Fadillah
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Judul di atas adalah bunyi salah satu flyer undangan aksi ARM, TPIP, Gladiator dan lainnya dalam memprotes kedudukan Gibran sebagai Wapres. Orang tidak peduli dengan Putusan MK mengenai gugatan atau permohonan yang tidak diterima, melainkan lebih tertarik pada pertimbangan hukum ketidakbenaran syarat pendidikan SLTA nya. Manipulasi undang-undang bahkan penipuan konstitusi. Gelombang aspirasi mendorong DPR untuk memproses pemakzulan akan semakin mempersulit posisi Gibran. Anak itu semakin tertekan. Tak ada lagi kehormatan. Olok olok menjadi konsumsi harian.

Aksi orang tuwir berseragam sekolah SMP atau SMA sudah jadi agenda. Sindiran serius atas Wapres yang buram sekolahnya. Dunia pendidikan telah diinjak-injak oleh anak haram hasil perselingkuhan. Entah yang mana bapak atau ibunya. Yang jelas ia lahir dari hubungan gelap bapak, paman, kementrian, penyelenggara pemilu, pengawas, dan pengadilan. Relawan pemandu sorak sengaja ribut untuk mengganggu suara kebenaran dan kejujuran. Menari telanjang di panggung dekadensi moral.

Penipuan tidak dapat berlangsung selamanya dan saat penghukuman itu telah tiba. DPR bersiap melangkah tapi butuh dukungan nyata dari masyarakat. Seperti biasa mencari momen agar para penikmat dan pengkhianat dapat menjadi pahlawan. DPR sibuk berhitung dan tawar menawar apa keuntungan yang akan diperoleh. Sementara kehormatan Gibran sendiri telah runtuh ke tingkat budak belian yang dijajakan seharga barang mainan.

Gibran memang harus out. Indonesia rugi besar memiliki Wapres seperti ini. Kecelakaan yang disengaja hasil kerja keluarga cemar A dan cemar B. Keluarga pencemar yang memang penganut   bebas nilai. Jokowi tukang jampi-jampi pemakan nikel dan batubara, Gibran main petak umpet hingga ijazahnya pun ikut ngumpet, Anwar Usman sang paman pasang badan dan akhirnya badannya tidak terpasang lagi di jabatan ketua, lalu Iriana sang bunda juga ikut bolak-balik ke MK untuk me-mark up usia anak TK tercinta.

Kahlil Gibran berpuisi anakmu bukanlah anakmu, ia adalah anak kehidupan. Bocil Gibran mungkin berpuisi anakmu bukanlah anakmu ia adalah anak dari bapak yang ahli penipuan.

Tidak ada lagi kehormatan pada Wapres Gibran, ia telah menghinakan kedudukannya sebagai  Wapres.

Wapresmu bukanlah Wapresmu Ia adalah Wapres dari kedunguan dan kepalsuan. Lahir dari pencabulan dan perselingkuhan.

Bandung, 16 Oktober 2026