Jelang Lima Abad Jakarta, Rencana Kawasan Bernuansa Korea Dan Jepang Tuai Kritik Budayawan Betawi
JELANG LIMA ABAD JAKARTA, RENCANA KAWASAN BERNUANSA KOREA DAN JEPANG TUAI KRITIK BUDAYAWAN BETAWI
Monitor Pos - JAKARTA, 15 Oktober 2026 – Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyulap dua kawasan ikonik di Jakarta dengan nuansa mancanegara menjelang perayaan Lima Abad Jakarta mendapat tanggapan kritis dari budayawan Betawi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Senin, 12 Oktober 2026, di Balai Kota Jakarta, menyatakan akan mengembangkan konsep tematik kawasan. Pasar Baru akan dikembangkan dengan nuansa Korea dan Blok M dengan nuansa Jepang. Sementara dua kawasan lainnya akan mempertahankan nuansa yang telah ada, yakni Kota Tua dengan nuansa Eropa dan Glodok dengan nuansa Pecinan. Rencana tersebut ditargetkan terwujud hingga tahun 2030.
Menanggapi rencana tersebut, sastrawan dan budayawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan (CGR) menyampaikan kekecewaannya. Hal itu disampaikan saat ditemui di kampung kelahirannya, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Selasa, 13 Oktober 2026.
"Menyambut Lima Abad Jakarta, Pemprov DKI Jakarta bukan menyatakan akan melakukan penguatan nuansa sejarah dan budaya Betawi, Batavia, Jakarta, terhadap Kota Jakarta, namun malah akan memberi sentuhan negara-negara lain pada Kota Jakarta," ujar CGR.
Alumni IISIP Jakarta yang dikenal kerap mengangkat sejarah-budaya Cina dan Belanda di Batavia dalam karya-karyanya itu menegaskan, dirinya setuju kawasan Glodok dipertahankan nuansa Pecinan dan Kota Tua diperkuat nuansa Eropa karena memiliki akar sejarah yang kuat sejak lima abad lalu.
"Akar budaya dan sejarahnya sudah ada dan kuat sejak lima abad silam. Tapi Jepang dan Korea? Betul mereka juga ada di Batavia, Jepang bahkan menjajah dengan sangat keji selama 3,5 tahun, namun urgensi tidak ada. Hanya karena K-Pop dan J-Pop mendunia?" katanya.
CGR yang juga pendiri Penerbit Padasan, Betawi Institute, Poestaka Betawi, dan Pemimpin Redaksi _Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies_ menilai, kebijakan tersebut menunjukkan Pemprov DKI memiliki anggaran untuk kegiatan seremonial, namun di sisi lain dinilai kurang memiliki staf ahli dengan wawasan sejarah dan budaya Betawi-Batavia-Jakarta yang mendalam.
Menurutnya, masih banyak titik dan kawasan bersejarah di Jakarta yang bisa dikembangkan untuk penguatan identitas lokal, namun ia enggan memaparkan konsepnya secara terbuka.
Ia mengaku belajar dari pengalaman sebelumnya terkait konsep Duit Betawi atau uang nasional bernuansa Betawi yang ia perjuangkan sejak tahun 2000 dan dinilainya terjadi pencurian ide.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemprov DKI Jakarta belum memberikan keterangan lanjutan terkait detail kajian historis dan konsep penataan kawasan Pasar Baru dan Blok M tersebut.
