Kendaraan Roda Tiga Berpotensi Jadi Alternatif Transportasi Nasional, Pemerataan Akses dan Keselamatan Jadi Sorotan

Table of Contents


Jakarta, Monitor Pos ~
 Pengembangan kendaraan roda tiga, seperti bajaj modern dan becak listrik, berpotensi menjadi alternatif transportasi yang melengkapi dominasi sepeda motor di Indonesia. Selain mendukung mobilitas masyarakat perkotaan, moda ini dinilai memiliki peluang untuk memperkuat konektivitas wilayah perdesaan, kawasan pesisir, pulau-pulau kecil, hingga daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP).

Wacana tersebut semakin relevan di tengah kebutuhan akan sistem transportasi yang aman, terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan. Namun, pengembangannya memerlukan perencanaan yang matang, terutama terkait keselamatan berkendara, efisiensi operasional, regulasi, serta pengendalian jumlah armada.

Alternatif Mobilitas Perkotaan hingga Wilayah Kepulauan

Keberadaan kendaraan roda tiga di Indonesia bukanlah hal baru. Sebelum layanan transportasi berbasis aplikasi berkembang pesat, bajaj telah beroperasi di sejumlah daerah di luar Jakarta, antara lain Bekasi, Banjarmasin, Sampit, Banyumas, dan Cilacap.

Perkembangan teknologi kemudian mendorong munculnya layanan bajaj modern berbasis aplikasi. Pada 2023, layanan tersebut mulai memasuki Kota Makassar melalui platform MaxRide. Kehadirannya sempat memunculkan penolakan dari sebagian pengemudi ojek daring, yang menunjukkan perlunya pengaturan persaingan dan pembagian ruang operasional antarmoda transportasi.

Layanan bajaj daring selanjutnya berkembang ke sejumlah kota lain, termasuk Medan, Pematangsiantar, Yogyakarta, Surakarta, Sragen, hingga Semarang.

Perkembangan ini memperlihatkan adanya peluang bagi kendaraan roda tiga untuk mengisi kebutuhan perjalanan jarak pendek, khususnya sebagai transportasi pengumpan atau first-mile/last-mile yang menghubungkan kawasan permukiman dengan terminal, stasiun, dan halte angkutan umum massal.

Menawarkan Kenyamanan dan Fleksibilitas

Dibandingkan sepeda motor, kendaraan roda tiga memiliki sejumlah keunggulan untuk fungsi transportasi tertentu. Konfigurasi tiga roda memberikan dukungan kestabilan saat kendaraan berhenti, meskipun tingkat keselamatannya tetap bergantung pada desain, kecepatan, kondisi jalan, dan perilaku pengemudi.

Kendaraan roda tiga modern juga dapat dilengkapi atap atau kabin pelindung untuk meningkatkan kenyamanan penumpang ketika menghadapi hujan dan panas. Kapasitas angkutnya memungkinkan kendaraan ini membawa beberapa penumpang atau barang dalam satu perjalanan, sesuai spesifikasi dan batas muatan yang ditetapkan.

Keunggulan tersebut berpotensi meningkatkan aksesibilitas bagi lansia, anak-anak, ibu yang membawa anak, serta penumpang dengan barang bawaan. Dengan desain yang tepat, kendaraan ini juga dapat dikembangkan agar lebih mudah digunakan oleh penyandang disabilitas.

Dari sisi distribusi barang, kendaraan roda tiga dapat dimanfaatkan untuk mengangkut hasil pertanian, kebutuhan perdagangan, dan logistik jarak pendek. Sejumlah model kargo bahkan dapat dirancang untuk membawa muatan ratusan kilogram, bergantung pada kapasitas teknis dan ketentuan kendaraan masing-masing.

Potensi Strategis bagi Daerah 3TP

Selain kawasan perkotaan, kendaraan roda tiga berpotensi mendukung mobilitas masyarakat di perdesaan, wilayah pesisir, dan pulau-pulau kecil yang belum memenuhi kondisi untuk pengembangan transportasi umum massal.

Dimensinya yang relatif ringkas memungkinkan kendaraan tertentu menjangkau jalan lingkungan, gang, serta jalur distribusi lokal yang sulit dilalui kendaraan berukuran besar. Dalam konteks tersebut, kendaraan roda tiga dapat berfungsi sebagai moda perintis yang menghubungkan permukiman dengan pasar, pusat pelayanan kesehatan, sekolah, dermaga, dan titik transportasi lainnya.

Untuk wilayah kepulauan kecil dengan jumlah penduduk terbatas, moda ini dapat menjadi bagian dari sistem mobilitas lokal yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat. Pengoperasiannya tetap harus mempertimbangkan kualitas jalan, daya dukung infrastruktur, keselamatan penumpang, serta ketersediaan bengkel dan suku cadang.

Pengembangan kendaraan roda tiga listrik juga membuka peluang untuk mendukung transisi energi di sektor transportasi. Penggunaan tenaga listrik berpotensi mengurangi emisi gas buang dan kebisingan di lokasi pengoperasian, terutama apabila didukung pasokan listrik yang memadai dan sumber energi yang semakin bersih.

Tantangan Keselamatan, Biaya, dan Tata Kelola

Meski menawarkan berbagai peluang, kendaraan roda tiga bukan tanpa keterbatasan. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah risiko terguling ketika berbelok tajam atau melakukan manuver tertentu, terutama pada kecepatan tinggi, akibat karakteristik pusat gravitasi, lebar tapak roda, dan desain suspensi.

Oleh karena itu, pengembangan armada harus disertai standar teknis yang jelas, pengujian kelaikan jalan, pembatasan kecepatan sesuai karakteristik kendaraan, serta pelatihan bagi pengemudi.

Dari sisi tata ruang, dimensi kendaraan roda tiga yang lebih lebar daripada sepeda motor membuat kebutuhan ruang jalannya lebih besar. Apabila jumlah armada bertambah tanpa pengaturan yang memadai, keberadaannya dapat menambah kepadatan lalu lintas, khususnya di koridor perkotaan yang sudah padat.

Biaya pengadaan juga menjadi pertimbangan. Kendaraan roda tiga umumnya membutuhkan investasi awal lebih besar daripada sepeda motor konvensional, sementara konsumsi energi dan biaya perawatan sangat bergantung pada jenis mesin, kapasitas angkut, teknologi baterai, serta intensitas penggunaan.

Ekosistem industri turut menentukan keberlanjutan operasionalnya. Ketersediaan suku cadang, jaringan servis, fasilitas pengisian atau penukaran baterai, dan kepastian regulasi perlu dikembangkan agar pengemudi tidak menghadapi biaya operasional yang terlalu tinggi.

Enam Langkah Mendorong Adopsi Kendaraan Roda Tiga

Untuk memperluas pemanfaatan kendaraan roda tiga secara terarah, terdapat enam langkah strategis yang dapat dipertimbangkan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku industri.

Pertama, mengintegrasikan layanan dengan transportasi massal. Bajaj modern dan becak listrik dapat ditempatkan sebagai moda pengumpan yang menghubungkan kawasan permukiman dengan stasiun MRT, LRT, KRL, terminal, dan halte bus. Integrasi tersebut perlu didukung titik naik-turun penumpang yang tertata.

Kedua, memanfaatkan teknologi digital. Sistem pemesanan berbasis aplikasi dapat membantu meningkatkan transparansi tarif, kemudahan pembayaran nontunai, pelacakan perjalanan, serta akses terhadap layanan pengaduan dan keselamatan.

Ketiga, memperjelas regulasi dan zonasi operasional. Pemerintah perlu memastikan kepatuhan terhadap ketentuan kendaraan, pengujian teknis, perizinan, batas muatan, dan standar keselamatan. Pengaturan wilayah operasi juga penting untuk mencegah konflik antarmoda serta mengendalikan kepadatan armada.

Keempat, meningkatkan kualitas desain dan edukasi publik. Kendaraan dengan desain modern, kabin yang nyaman, dan perawatan yang baik dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat. Program uji coba di koridor tertentu juga dapat membantu mengevaluasi respons pengguna sebelum layanan diperluas.

Kelima, menyiapkan insentif yang tepat sasaran. Dukungan pembiayaan, skema kredit terjangkau, insentif peremajaan armada, atau bantuan pengadaan becak listrik dapat dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan daerah dan kemampuan anggaran. Pelaksanaannya perlu disertai evaluasi manfaat ekonomi serta keberlanjutan bagi pengemudi.

Keenam, mengembangkan layanan sesuai karakteristik wilayah. Di kawasan kepulauan, perdesaan, dan daerah 3TP, kendaraan roda tiga dapat disesuaikan untuk angkutan penumpang, distribusi barang, dan layanan penghubung antarpusat kegiatan. Penentuan jenis kendaraan harus mempertimbangkan kondisi geografis, kebutuhan penduduk, serta ketersediaan infrastruktur pendukung.

Pemerintah Daerah Berperan Menjaga Keseimbangan

Keberhasilan pengembangan kendaraan roda tiga tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan jumlah armada, tetapi juga oleh kualitas tata kelola. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memetakan kebutuhan perjalanan, menetapkan wilayah operasi, mengawasi keselamatan, dan menjaga keseimbangan antara jumlah kendaraan yang tersedia dengan permintaan masyarakat.

Pengendalian tersebut diperlukan agar pertumbuhan armada tidak menimbulkan persaingan yang tidak sehat, menambah kemacetan, atau menekan pendapatan pengemudi akibat jumlah kendaraan yang berlebihan.

Evaluasi berkala juga diperlukan untuk mengukur tingkat keterisian penumpang, biaya operasional, keselamatan perjalanan, dampak lingkungan, dan manfaat layanan bagi masyarakat. Hasil evaluasi dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu wilayah membutuhkan penambahan armada, penyesuaian rute, atau pengembangan moda transportasi lain.

Pada akhirnya, kendaraan roda tiga tidak harus diposisikan sebagai pengganti sepeda motor secara menyeluruh. Perannya lebih tepat dikembangkan sebagai moda pelengkap yang menjawab kebutuhan mobilitas tertentu, terutama perjalanan jarak pendek, angkutan barang ringan, dan konektivitas wilayah yang belum terlayani secara optimal.

Dengan regulasi yang jelas, standar keselamatan yang kuat, dukungan infrastruktur, serta kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan usaha pengemudi, kendaraan roda tiga berpeluang menjadi bagian dari sistem transportasi Indonesia yang lebih inklusif, efisien, dan adaptif terhadap kebutuhan setiap daerah.

@Iyus