KH Syukron Makmun Wafat, Monitor Pos Berduka atas Kepergian Sang “Singa Podium”

Table of Contents

foto dok istimewa
Jakarta, Monitor Pos ~ Dunia dakwah Islam Indonesia kehilangan salah satu sosok ulama yang dikenal luas melalui kiprahnya dalam pendidikan dan syiar keagamaan. KH Syukron Makmun, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Daarul Rahman Jakarta, meninggal dunia pada Minggu, 18 Oktober 2026. Kepergian ulama yang akrab dijuluki “Singa Podium” tersebut meninggalkan duka mendalam bagi para santri, jemaah, kalangan pesantren, serta masyarakat yang mengenal perjuangannya.

Keluarga besar redaksi Monitor Pos turut menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya KH Syukron Makmun, sosok yang dihormati sebagai guru besar dan panutan dalam perjalanan keilmuan serta dakwah.

“Kami segenap dewan redaksi Monitor Pos menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya guru besar kami, KH Syukron Makmun, Sang Singa Podium. Semoga ilmu yang telah beliau ajarkan dan syiar kebaikan yang telah beliau sebarkan menjadi amal jariyah, menerangi perjalanan beliau di sisi Allah SWT, serta terus memberikan manfaat bagi umat sepanjang masa.”

Berasal dari Keluarga Religius, Tumbuh Menjadi Pendakwah

KH Syukron Makmun lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Ia tumbuh di tengah keluarga yang memiliki tradisi keagamaan kuat. Kakek dari pihak ayahnya merupakan seorang kiai, sementara ibunya dikenal sebagai guru mengaji di lingkungan tempat tinggalnya.

Latar belakang keluarga tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Syukron yang kemudian mendedikasikan dirinya untuk pengembangan ilmu agama dan dakwah Islam. Sejak usia muda, ia telah aktif menyampaikan ceramah keagamaan hingga memperoleh julukan “Singa Podium”.

Semangat dakwahnya berkembang ketika menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo. Pada masa mudanya, ia mulai menjangkau berbagai daerah untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman.

Hingga awal 1967, kiprah dakwahnya telah menjangkau sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Magetan, dan daerah sekitarnya. Perjalanan tersebut menunjukkan besarnya semangat almarhum dalam menyebarkan ilmu agama kepada masyarakat lintas daerah.

Menimba Ilmu kepada Ulama, Mengabdikan Diri di Jakarta

Perjalanan keilmuan KH Syukron Makmun berlanjut ke Jakarta. Di ibu kota, ia menimba ilmu kepada Habib Ali bin Husein di kawasan Bungur. Ia juga mempelajari kitab Sahih Bukhari kepada Habib Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang.

Selain aktif dalam kegiatan dakwah, Syukron turut mengajar di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta pada 1971. Namun, seiring meningkatnya aktivitas keagamaan, ia semakin memusatkan perhatian pada pembinaan umat melalui berbagai majelis taklim.

Ia secara rutin mengisi pengajian di Islamic Center. Melalui forum tersebut, Syukron menyampaikan ilmu agama sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat dari berbagai kalangan.

Dedikasinya menjadikan dakwah sebagai bagian utama dalam perjalanan pengabdiannya. Ia tidak hanya dikenal melalui ceramah di atas mimbar, tetapi juga melalui keterlibatannya dalam pendidikan dan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.

Dakwah Menjangkau Nusantara hingga Mancanegara

Pengabdian KH Syukron Makmun tidak terbatas di Jakarta dan Pulau Jawa. Ia aktif berdakwah ke berbagai wilayah di hampir seluruh Nusantara. Kiprahnya bahkan meluas hingga sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Jangkauan dakwah tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam menyebarkan ajaran Islam dan memperluas manfaat ilmu agama kepada masyarakat.

Julukan “Singa Podium” pun melekat pada sosoknya sebagai pendakwah yang mendedikasikan hidup untuk syiar Islam. Warisan ilmu, pengalaman, dan keteladanan yang ditinggalkannya diharapkan terus menjadi inspirasi bagi para santri, jemaah, serta generasi penerus.

Monitor Pos: Dedikasi dan Warisan Ilmu Akan Terus Dikenang

Bagi keluarga besar Monitor Pos, wafatnya KH Syukron Makmun bukan sekadar kehilangan seorang ulama, melainkan juga kehilangan sosok guru besar yang memiliki arti penting dalam perjalanan keilmuan dan kehidupan spiritual.

Kepergian almarhum pada Minggu, 18 Oktober 2026, menjadi momentum untuk mengenang kembali pengabdian panjangnya dalam pendidikan dan dakwah Islam. Ilmu yang telah diajarkan serta kebaikan yang ditanamkan diharapkan terus hidup melalui mereka yang pernah belajar, mendengar nasihat, dan memperoleh manfaat dari perjuangannya.

Keluarga besar redaksi Monitor Pos mendoakan agar Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Red